PROGRES.ID – Sebuah bunker bawah tanah besar di kota Tel Aviv, Israel, dilaporkan hancur setelah dihantam rudal dari Iran pada Minggu (8/3/2026). Serangan tersebut memicu kebakaran hebat yang melalap fasilitas perlindungan yang disebut-sebut sebagai salah satu bunker paling besar di kota tersebut.
Bunker tersebut diduga merupakan lokasi perlindungan yang biasa digunakan oleh para pejabat tinggi Israel saat terjadi serangan militer. Namun, hingga kini belum ada rincian resmi mengenai kerusakan maupun jumlah korban dari pihak berwenang Israel.
Dugaan Ratusan Korban Jiwa
Sejumlah laporan awal menyebutkan kemungkinan terdapat ratusan orang di dalam bunker saat serangan terjadi. Meski demikian, angka pasti korban jiwa belum dapat dipastikan.
Pemerintah Israel disebut masih melakukan sensor ketat terhadap informasi terkait dampak serangan, sehingga detail mengenai kerusakan fasilitas maupun korban masih terbatas.
Serangan Iran Terus Berlanjut
Serangan terhadap bunker tersebut terjadi di tengah meningkatnya operasi militer Iran terhadap target-target di Israel. Dalam beberapa hari terakhir, militer Iran dilaporkan terus meluncurkan gelombang serangan udara dan rudal ke sejumlah kota strategis.
Konflik antara kedua pihak pun semakin memanas dengan aksi saling balas serangan yang berlangsung hampir setiap hari.
Bentrokan Hizbullah dan Tentara Israel
Di sisi lain, ketegangan juga meningkat di wilayah perbatasan dengan Lebanon. Kelompok bersenjata Hezbollah dilaporkan terlibat baku tembak dengan pasukan Israel Defense Forces (IDF).
Dalam bentrokan pada Sabtu malam (7/3/2026), seorang tentara Israel dilaporkan tewas. Militer Israel mengidentifikasi korban sebagai Maher Khattar. Selain itu, beberapa tentara lainnya dilaporkan mengalami luka serius.
Lebanon Ikut Terdampak Konflik
Sementara itu, jet tempur Israel juga melakukan serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon. Serangan tersebut menyebabkan ratusan warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.
Meski mendapat tekanan militer, Hezbollah disebut tetap melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke wilayah selatan Palestina yang berada di bawah kontrol Israel.












