Pakar MIT Bongkar Fakta Perang Iran–Israel: Rudal Tak Bisa Dihentikan, Dunia Terancam Perang Nuklir

favicon progres.id
ledakan bom besar di pusat kota tel aviv
Ledakan besar terjadi di pusat Kota Tel Aviv akibat rudak balistik Iran, belum diketahui seberapa parah kehancuran ini dan korban yang terdampak (Foto: Telegram)

PROGRES.ID – Perang antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel semakin memicu kekhawatiran global. Dalam sebuah wawancara panjang bersama analis geopolitik Glenn Diesen, pakar senjata nuklir dari Massachusetts Institute of Technology, Theodore Postol, mengungkap sejumlah fakta teknis yang jarang dibahas publik.

Menurut Postol, konflik yang sedang berlangsung bukan sekadar perang biasa. Ia menilai perang ini pada dasarnya adalah pertarungan teknologi rudal dan sistem pertahanan udara yang hasilnya bisa menentukan masa depan keamanan global.

“Perang ini pada dasarnya tentang siapa yang mampu menimbulkan kerusakan paling besar dan siapa yang mampu bertahan lebih lama,” kata Postol.

Namun, yang paling mengejutkan, ia menilai banyak sistem pertahanan rudal modern sebenarnya tidak seefektif yang selama ini diklaim.

Pertahanan Rudal Barat Dinilai Gagal

Selama beberapa dekade terakhir, negara-negara Barat menginvestasikan ratusan miliar dolar untuk membangun sistem pertahanan rudal canggih seperti Iron Dome, Patriot missile system, hingga sistem pencegat jarak jauh.

Namun, menurut Postol, efektivitasnya sangat dipertanyakan.

Ia mengungkap bahwa dalam konflik sebelumnya, tingkat keberhasilan sistem Patriot bahkan hanya beberapa persen.

Pengalaman serupa pernah terjadi pada Gulf War 1991, ketika sistem Patriot diklaim berhasil mencegat rudal Irak. Setelah diteliti lebih jauh, ternyata sebagian besar “intersepsi” hanyalah ledakan rudal pencegat di udara tanpa mengenai target.

“Selama puluhan tahun publik diberi kesan bahwa pertahanan rudal mampu melindungi negara dari serangan balistik. Faktanya tidak seperti itu,” jelasnya.

Ia menyebut kegagalan ini sebagai “penipuan teknis besar” yang berlangsung selama puluhan tahun.

Iran Semakin Berbahaya dengan Teknologi Baru

Postol juga menilai kemampuan militer Iran berkembang pesat, terutama dalam teknologi drone dan rudal balistik.

Salah satu faktor penting adalah dukungan teknologi satelit. Ia menyebut bahwa data satelit beresolusi tinggi dari China dan Rusia memungkinkan Iran mendapatkan informasi target secara hampir real-time.

Data ini kemudian digunakan untuk memandu drone dan rudal menuju sasaran dengan presisi tinggi.

Drone yang digunakan bahkan dapat dikendalikan dari jarak ribuan kilometer menggunakan jaringan satelit seperti Iridium satellite network.

“Operator dari Iran dapat melihat target secara langsung melalui kamera drone dan mengarahkannya dengan akurasi puluhan meter,” kata Postol.

Dalam kondisi seperti itu, fasilitas militer penting seperti radar, pelabuhan, hingga depot minyak menjadi target yang sangat rentan.

Drone Murah Bisa Lumpuhkan Pertahanan Mahal

Menurut Postol, salah satu pelajaran besar dari perang modern adalah ketidakseimbangan biaya antara serangan dan pertahanan.

Drone murah yang diproduksi massal dapat memaksa lawan menggunakan rudal pencegat bernilai jutaan dolar.

Situasi ini pernah terjadi dalam perang di Ukraina, di mana Rusia menggunakan drone secara masif untuk menguras sistem pertahanan udara Ukraina.

Strategi serupa kini terlihat dalam konflik Iran–Israel.

“Jika ribuan drone diluncurkan secara bersamaan, mereka bisa menguras seluruh stok rudal pencegat. Setelah itu pertahanan udara akan praktis lumpuh,” jelasnya.

Rudal Iran Kini Lebih Mematikan

Postol juga menyoroti perkembangan teknologi rudal balistik Iran, termasuk hulu ledak yang mampu bermanuver saat memasuki atmosfer.

Teknologi ini membuat rudal lebih sulit dicegat.

Selain itu, kecepatan rudal yang sangat tinggi menghasilkan energi kinetik besar saat menghantam target.

Menurutnya, sebuah hulu ledak yang menghantam tanah dengan kecepatan Mach 10 atau lebih dapat menghasilkan daya hancur setara dengan dua kali kekuatan bahan peledak yang dibawanya.

Artinya, satu rudal saja dapat menimbulkan kerusakan yang sangat besar di kota-kota besar.

Risiko Perang Nuklir Semakin Nyata

Namun, kekhawatiran terbesar Postol bukan hanya kerusakan konvensional.

Ia memperingatkan bahwa Iran sebenarnya sudah memiliki kapasitas teknis untuk membuat senjata nuklir dalam waktu singkat.

Menurutnya, Iran memiliki cukup bahan uranium yang diperkaya untuk membuat sekitar 10 bom atom jika negara itu memutuskan memproduksinya.

Ia menilai Israel sangat rentan terhadap serangan nuklir karena ukuran negaranya yang kecil.

“Sepuluh bom nuklir sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan Israel sebagai negara,” katanya.

Karena itu, ia khawatir konflik yang terus meningkat bisa memicu penggunaan senjata nuklir.

Kekhawatiran Terhadap Eskalasi Besar

Dalam wawancara tersebut, Postol juga menyampaikan kekhawatiran serius terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

Ia menilai perang bisa berlangsung lama dan bahkan berpotensi meluas menjadi konflik global.

“Jika perang ini terus meningkat, kita bisa saja melangkah menuju perang nuklir regional yang kemudian berkembang menjadi konflik yang lebih besar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dunia saat ini memasuki wilayah yang belum pernah dialami sebelumnya.

“Kita sedang bermain dengan api, dan tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana ini akan berakhir.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *