PROGRES.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki fase baru setelah pergantian kepemimpinan di Iran. Sejak Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei yang gugur saat hari pertama perang, serangan militer Iran terhadap Israel dan berbagai fasilitas militer Amerika di kawasan disebut semakin intens.
Gelombang serangan rudal dilaporkan terus berlangsung siang dan malam. Sejumlah laporan menyebutkan Iran kini menggunakan rudal dengan daya hancur lebih besar yang menargetkan kota-kota penting di Israel.
Rudal Berat Mengarah ke Kota-Kota Utama Israel
Beberapa target utama serangan dilaporkan berada di kawasan metropolitan Israel seperti Tel Aviv, Haifa dan Yerusalem.
Menurut berbagai laporan yang beredar, rudal yang digunakan dalam beberapa serangan terbaru membawa hulu ledak hingga sekitar satu ton, yang berpotensi menyebabkan kerusakan besar pada bangunan dan infrastruktur di wilayah yang terkena dampak.
Serangan dengan daya ledak tinggi ini dinilai mempercepat tingkat kerusakan di sejumlah wilayah yang menjadi sasaran.

Video Kerusakan Bangunan Beredar
Beberapa video yang beredar di media sosial memperlihatkan dampak serangan yang cukup besar. Salah satu rekaman menunjukkan sebuah kompleks bangunan tempat tinggal yang mengalami kerusakan berat dan berada di ambang runtuh setelah terkena dampak ledakan.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi di wilayah Bat Yam yang berada di dekat Tel Aviv. Di beberapa lokasi, bangunan tampak porak-poranda dan jalanan dipenuhi puing-puing.
Namun, sejumlah pengamat menyebut bahwa gambar yang beredar kemungkinan hanya menunjukkan sebagian kecil dari kondisi sebenarnya di lapangan, mengingat adanya pembatasan informasi selama konflik berlangsung.
Konflik Berpotensi Berkepanjangan
Meningkatnya intensitas serangan memunculkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Jika perang terus berlanjut dalam waktu panjang, banyak analis memperingatkan bahwa kerusakan infrastruktur di sejumlah kota besar Israel bisa semakin meluas.
Situasi ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang sejak awal konflik telah menghadapi risiko eskalasi regional lebih besar.
Sementara itu, komunitas internasional terus memantau perkembangan konflik dengan harapan adanya upaya diplomasi untuk mencegah dampak yang lebih luas bagi stabilitas kawasan maupun ekonomi global.












