Perang AS–Israel vs Iran Berpotensi Berlangsung 100 Hari, Mearsheimer: AS dan Israel Bakal Kalah!

favicon progres.id
bandara bengurion tel aviv terbakar
Bandara terbesar di Israel, Ben Gurion terbakar hebat usai rudal Iran menghantamnya (Foto: Screenshot video)

PROGRES.ID – Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus menunjukkan tanda-tanda eskalasi. Sejumlah laporan menyebut Washington kemungkinan bersiap menghadapi kampanye militer panjang yang bisa berlangsung hingga 100 hari, bahkan berpotensi berlanjut sampai September.

Ketegangan yang meningkat itu mulai mengguncang pasar energi global serta memicu kekhawatiran negara-negara di Timur Tengah mengenai masa depan keamanan kawasan.

Dalam sebuah wawancara dengan CGTN, pakar hubungan internasional dari University of Chicago, John J. Mearsheimer, menilai tujuan utama serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran adalah perubahan rezim di Teheran.

“Tujuan utamanya jelas: mengganti rezim di Iran. Target lain seperti menghentikan program nuklir, menghentikan rudal balistik, atau memutus dukungan Iran kepada kelompok seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi tidak akan tercapai tanpa perubahan pemerintahan,” kata Mearsheimer.

Namun menurutnya, upaya tersebut kemungkinan besar akan gagal.

Serangan Udara Dinilai Tak Cukup Gulingkan Pemerintahan

Mearsheimer menjelaskan bahwa strategi militer yang saat ini dijalankan Washington dan Tel Aviv lebih banyak mengandalkan kekuatan udara tanpa pengerahan pasukan darat.

Presiden AS, Donald Trump, bahkan disebut telah menegaskan bahwa pengiriman pasukan darat ke Iran bukan pilihan yang realistis.

“Dalam sejarah modern, hampir tidak ada contoh perubahan rezim yang berhasil hanya melalui serangan udara. Trump sedang bertaruh pada sesuatu yang belum pernah berhasil sebelumnya,” ujar dia.

Ia menambahkan, jika perang berubah menjadi konflik berkepanjangan, posisi Iran justru bisa lebih kuat dibanding Amerika Serikat dan Israel.

Iran Dinilai Hanya Perlu Bertahan

Menurut Mearsheimer, dalam konflik jangka panjang, Iran tidak harus memenangkan pertempuran secara langsung melawan militer AS. Yang perlu dilakukan Teheran hanyalah bertahan dan terus memberikan tekanan.

Ia membandingkan situasi ini dengan pengalaman Amerika Serikat dalam Perang Vietnam serta konflik di Afghanistan.

“Amerika Serikat memenangkan hampir semua pertempuran di Vietnam, tetapi tetap kalah perang. Hal yang sama terjadi di Afghanistan ketika Taliban akhirnya kembali berkuasa setelah 20 tahun,” jelasnya.

Dalam konteks konflik saat ini, Iran dinilai dapat memberikan tekanan melalui berbagai cara, termasuk menyerang sekutu Amerika di kawasan Teluk serta mengganggu jalur energi global di Selat Hormuz.

Selat Hormuz Jadi Kartu Penting Iran

Salah satu faktor yang memperbesar dampak konflik adalah posisi strategis Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dunia.

Mearsheimer mengatakan Iran memiliki kemampuan untuk mengganggu atau bahkan menutup jalur tersebut, yang berpotensi memicu krisis energi global.

Selain itu, Iran juga disebut memiliki persediaan besar rudal balistik jarak pendek dan drone yang bisa digunakan untuk menyerang fasilitas energi di negara-negara Teluk.

Jika Iran menargetkan infrastruktur minyak maupun fasilitas desalinasi air di negara-negara tersebut, dampaknya bisa sangat besar.

“Jika fasilitas energi dan instalasi air diserang, beberapa negara Teluk bahkan bisa menjadi tidak layak dihuni,” katanya.

Negara Teluk Mulai Khawatir

Menurut Mearsheimer, negara-negara Teluk yang selama ini menjadi sekutu Washington kini mulai khawatir dengan eskalasi konflik.

Mereka disebut mendesak Amerika Serikat agar segera menghentikan perang sebelum situasi berubah menjadi bencana regional.

“Iran memiliki sejumlah kartu penting dalam konflik ini, termasuk tekanan terhadap negara-negara Teluk, serangan terhadap Israel, dan gangguan terhadap pasokan energi dunia,” ujarnya.

Perang Diprediksi Tak Berakhir Cepat

Mearsheimer menilai konflik ini kecil kemungkinan akan berakhir cepat atau menghasilkan kemenangan jelas bagi Amerika Serikat dan Israel.

Meskipun kedua negara dapat menimbulkan kerusakan besar di Iran, ia menilai sangat sulit untuk menjatuhkan pemerintahan Teheran dan menggantinya dengan rezim yang berpihak kepada Washington.

“Sulit membayangkan Amerika Serikat benar-benar memenangkan perang ini secara bermakna,” kata Mearsheimer.

Jika konflik terus berlanjut, perang tersebut dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada Timur Tengah, tetapi juga memicu krisis ekonomi dan energi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *