PROGRES.ID – Sebuah laporan dari Pusat Studi Kebijakan dan Sosial Taub (Taub Center) mengungkapkan bahwa Israel mengalami peningkatan jumlah penduduk yang meninggalkan negara tersebut sepanjang 2026, sementara jumlah warga yang kembali terus mengalami penurunan.
Dalam laporan terbarunya, lembaga riset itu menyebut tren tersebut terjadi bersamaan dengan merosotnya jumlah imigran Yahudi yang datang ke Israel.
Menurut Taub Center, jumlah imigran Yahudi yang menetap di Israel selama 2025 tercatat sebagai yang terendah sejak 2014, dengan pengecualian tahun 2020 ketika mobilitas internasional dibatasi akibat pandemi COVID-19.
Penurunan tersebut terjadi setelah lonjakan signifikan yang sempat tercatat pada 2022 dan 2023.
Laporan itu juga mencatat meningkatnya jumlah emigran, baik warga Yahudi maupun non-Yahudi yang lahir di luar Israel, dibandingkan rata-rata periode 2014 hingga 2022.
Di kelompok penduduk non-Yahudi yang sebagian besar lahir di luar Israel, tingkat emigrasi disebut mencapai angka yang sangat tinggi. Pada 2023, tercatat sekitar 391 emigran per 10.000 penduduk, jauh lebih tinggi dibandingkan 16 emigran per 10.000 penduduk Arab dan 48 emigran per 10.000 penduduk Yahudi.
Taub Center menilai kombinasi antara menurunnya arus imigrasi dan meningkatnya jumlah warga yang meninggalkan Israel telah menyebabkan negara itu mengalami migrasi bersih negatif selama dua tahun berturut-turut.
Migrasi bersih negatif terjadi ketika jumlah penduduk yang keluar dari suatu negara lebih besar dibandingkan jumlah penduduk yang masuk atau kembali menetap.
Temuan tersebut menunjukkan adanya perubahan tren demografi di Israel setelah beberapa tahun sebelumnya mencatat peningkatan kedatangan imigran, terutama pada 2022 dan 2023.












