PROGRES.ID – Seorang pakar geopolitik, Jiang Xueqin, mengungkap analisis tajam mengenai dinamika konflik antara Amerika Serikat dan Iran dalam monolog berjudul “America Can’t Win This War — Here’s Why.”
Menurutnya, banyak orang memiliki asumsi keliru tentang kekuatan militer: negara dengan anggaran terbesar, teknologi paling canggih, dan senjata paling modern dianggap pasti menang dalam perang.
Padahal, kenyataan di lapangan tidak selalu demikian.
Militer Amerika Terkuat dalam Sejarah
Jiang menegaskan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat memang luar biasa. Anggaran pertahanannya bahkan lebih besar dibandingkan dengan gabungan belanja militer banyak negara lain di dunia.
Selain itu, Amerika memiliki jaringan pangkalan militer global, armada kapal induk raksasa, sistem satelit canggih, serta persenjataan nuklir yang belum tertandingi.
“Jika Amerika berperang secara konvensional melawan hampir negara mana pun di dunia, hasilnya kemungkinan akan sangat cepat dan tidak seimbang,” ujarnya.
Namun, pertanyaan besarnya adalah: mengapa Iran tetap bertahan meskipun telah menghadapi tekanan dari Washington selama puluhan tahun?
Iran Bermain dengan Aturan Berbeda
Menurut Jiang, kunci jawabannya terletak pada strategi Iran yang tidak mencoba menang dengan cara yang sama seperti Amerika.
Alih-alih berhadapan langsung dalam perang konvensional, Iran menggunakan pendekatan perang asimetris.
Konsep ini sederhana: pihak yang lebih lemah tidak bertarung dengan aturan yang dibuat oleh pihak yang lebih kuat.
Ia menggambarkan situasinya seperti pertarungan antara petinju kelas berat profesional dan lawan yang jauh lebih kecil. Jika bertarung di ring dengan aturan tinju, sang petinju pasti menang.
Namun, jika pertarungan terjadi di lingkungan yang tidak terduga—seperti gang sempit atau tempat yang dikenal baik oleh lawan yang lebih kecil—situasinya bisa berubah drastis.
Simulasi Militer Pentagon yang Mengejutkan
Jiang mencontohkan simulasi perang besar yang pernah dilakukan militer Amerika pada tahun 2002, yaitu latihan militer bernama Millennium Challenge 2002.
Latihan tersebut dirancang untuk mensimulasikan konflik antara Amerika dan negara Timur Tengah yang memiliki strategi mirip Iran.
Dalam simulasi awal, komandan tim lawan menggunakan taktik tidak konvensional seperti:
- Serangan rudal mendadak
- Swarm boat atau kapal cepat dalam jumlah besar
- Sistem komunikasi sederhana yang sulit dilacak
Hasilnya mengejutkan. Dalam skenario tersebut, sebagian besar armada laut Amerika “hancur” hanya dalam waktu singkat.
Latihan kemudian diulang, tetapi kali ini pihak lawan dilarang menggunakan taktik asimetris dan harus bertempur secara konvensional. Hasilnya langsung berbeda: Amerika menang dengan mudah.
“Ini menunjukkan dominasi militer Amerika yang nyata, tetapi hanya ketika perang berlangsung dengan aturan yang mereka kuasai,” kata Jiang.
Belajar dari Vietnam dan Afghanistan
Menurut Jiang, Iran mempelajari berbagai konflik yang menunjukkan batas kekuatan militer konvensional.
Dua contoh paling jelas adalah Perang Vietnam dan Perang Afghanistan.
Dalam kedua konflik tersebut, Amerika memiliki teknologi dan kekuatan militer yang jauh lebih unggul, tetapi tetap kesulitan mencapai kemenangan strategis.
Pelajaran inilah yang kemudian menjadi dasar strategi Iran sejak Revolusi Islam tahun 1979.
Strategi Empat Lapisan Iran
Jiang menjelaskan bahwa strategi Iran bekerja dalam beberapa lapisan sekaligus.
1. Persatuan dalam negeri
Iran berusaha memastikan bahwa setiap tekanan eksternal justru memperkuat solidaritas rakyat terhadap negara.
Jika masyarakat merasa negaranya diserang dari luar, maka stabilitas internal menjadi lebih kuat.
2. Jaringan aliansi regional
Iran membangun jaringan sekutu dan mitra di kawasan Timur Tengah, termasuk kelompok seperti Hezbollah serta kelompok lain di Irak, Suriah, dan Yaman.
Hubungan diplomatik dengan negara besar seperti Rusia dan China juga menjadi bagian dari strategi ini.
Tujuannya adalah memperluas medan konflik sehingga serangan terhadap Iran berpotensi memicu respons di berbagai wilayah sekaligus.
3. Pertarungan opini global
Iran juga memperhatikan narasi internasional. Dalam konflik modern, dukungan publik dunia dapat mempengaruhi legitimasi politik suatu perang.
Jika Iran berhasil membingkai konflik sebagai perlawanan terhadap agresi kekuatan besar, maka tekanan politik terhadap Washington akan meningkat.
4. Menguras kekuatan lawan
Alih-alih mencari kemenangan cepat, Iran berupaya meningkatkan biaya konflik bagi Amerika secara perlahan.
Gangguan terhadap jalur minyak di Selat Hormuz, ancaman terhadap pangkalan militer, dan tekanan regional dapat memaksa Amerika mengeluarkan biaya besar dalam jangka panjang.
Perbedaan Skala Waktu
Faktor lain yang sangat penting adalah waktu.
Sistem politik Amerika membuat para pemimpinnya menghadapi pemilu setiap empat tahun, sehingga tekanan untuk mendapatkan hasil cepat sangat tinggi.
Sebaliknya, Iran merancang strategi dalam jangka puluhan tahun.
“Tujuan Iran bukan mengalahkan Amerika dalam satu pertempuran besar,” kata Jiang.
“Tujuan mereka adalah bertahan cukup lama sampai Washington merasa konflik tersebut tidak lagi sepadan dengan biayanya.”
Perang yang Ditentukan oleh Ketahanan
Dalam analisis Jiang, kemenangan Iran tidak diukur dari kehancuran Amerika, melainkan dari kemampuannya bertahan.
Jika Iran masih berdiri, tetap berfungsi sebagai negara, dan masih memiliki pengaruh regional dalam 10 atau 20 tahun mendatang, maka strategi tersebut telah berhasil.
Dengan kata lain, pertanyaan utama bukanlah apakah Iran dapat mengalahkan Amerika.
“Pertanyaan sebenarnya adalah apakah Iran dapat bertahan menghadapi tekanan Amerika,” ujarnya.
Dan sejauh ini, menurut Jiang, jawabannya adalah: ya.












