PROGRES.ID – Ketegangan militer di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran mengonfirmasi telah melancarkan serangan drone terhadap fasilitas industri pertahanan milik Israel. Target utama dalam serangan tersebut adalah pabrik senjata strategis yang dikelola oleh dua perusahaan pertahanan terbesar Israel.
Serangan itu diarahkan ke fasilitas produksi milik Rafael Advanced Defense Systems dan Israel Aerospace Industries.
Menurut pernyataan yang beredar, serangan drone tersebut menargetkan pusat manufaktur senjata penting yang menjadi bagian dari rantai produksi militer Israel.
Pabrik Senjata Israel Diklaim Rusak
Iran menyatakan bahwa serangan drone tersebut berhasil mengenai fasilitas strategis yang digunakan untuk memproduksi berbagai sistem persenjataan canggih.
Akibat serangan itu, sejumlah fasilitas produksi dilaporkan mengalami kerusakan signifikan. Iran bahkan mengklaim bahwa pabrik tersebut tidak dapat kembali beroperasi selama konflik masih berlangsung.
Namun, seperti biasa, sensor militer zionis masih aktif dan hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Israel terkait tingkat kerusakan yang terjadi pada fasilitas tersebut.
Perusahaan Kunci Industri Militer Israel
Perusahaan Rafael Advanced Defense Systems dikenal sebagai salah satu pengembang utama teknologi pertahanan Israel. Perusahaan ini memproduksi berbagai sistem militer penting, termasuk sistem pertahanan udara Iron Dome serta rudal antitank Spike.
Selain itu, Rafael juga terlibat dalam pengembangan berbagai teknologi militer modern, termasuk sistem keamanan siber untuk kebutuhan pertahanan.
Sementara itu, Israel Aerospace Industries merupakan perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan terbesar di Israel. Perusahaan ini memproduksi pesawat militer, drone tempur, sistem rudal, serta berbagai teknologi pertahanan strategis.
IAI juga berperan dalam pengembangan sistem pertahanan rudal jarak jauh Arrow Missile Defense System yang dirancang untuk mencegat serangan rudal balistik.
Iran Tegaskan Tolak Gencatan Senjata
Di tengah meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, pemerintah Iran menegaskan bahwa mereka belum bersedia menerima negosiasi maupun gencatan senjata.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa sikap tersebut bukan berarti Iran menginginkan perang berkepanjangan.
Menurutnya, Iran hanya ingin memastikan bahwa agresi serupa tidak akan kembali terjadi di masa depan.
Ia menegaskan bahwa negara-negara yang dianggap melakukan serangan terhadap Iran harus belajar dari konflik yang sedang berlangsung saat ini.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat masih berpotensi berlanjut, sementara situasi keamanan di kawasan Timur Tengah terus menjadi perhatian dunia.












