PROGRES.ID – Konflik di Timur Tengah yang telah memasuki pekan keempat menunjukkan tanda-tanda eskalasi, bukan mereda. Serangan terus terjadi di berbagai wilayah, termasuk di Iran dan Israel, sementara dampak ekonomi global mulai terasa akibat terganggunya jalur energi dunia.
Berdasarkan laporan BBC News, sebuah kota di Israel yang diyakini menjadi lokasi persenjataan nuklir dilaporkan terkena rudal balistik Iran. Teheran menyebut serangan itu sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas nuklir Iran sebelumnya. Beberapa sumber menyebut sejumlah ilmuwan nuklir Israel tewas akibat serangan tersebut.
Tidak hanya itu, Iran juga meluncurkan dua rudal balistik ke pangkalan militer Inggris–Amerika Serikat di Diego Garcia yang berjarak sekitar 2.400 mil dari Iran. Meski rudal tersebut tidak mengenai target, jarak tempuhnya disebut jauh lebih panjang dari perkiraan sebelumnya, menunjukkan perkembangan kemampuan rudal Iran.
Militer Israel mengklaim ancaman tersebut nyata dan menyebut Iran meluncurkan rudal balistik antarbenua dua tahap dengan jangkauan sekitar 2.500 mil. Jangkauan tersebut dinilai mampu mencapai target yang lebih jauh, bahkan berpotensi menjangkau ibu kota negara-negara Eropa.
Pengamat militer menilai perkembangan ini menunjukkan kapasitas program rudal balistik Iran lebih besar dari yang selama ini diperkirakan. Selain meningkatkan ancaman militer, hal ini juga memperumit sistem pertahanan rudal di kawasan dan membuat negara-negara Eropa mulai mempertimbangkan ulang strategi pertahanan mereka.
Namun, dampak terbesar dari konflik ini justru datang dari sektor ekonomi global, terutama akibat terganggunya jalur pelayaran di Strait of Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute energi terpenting di dunia, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, gas alam cair (LNG), serta sepertiga pasokan pupuk global.
Penutupan efektif jalur tersebut selama hampir tiga minggu telah meningkatkan biaya energi dan transportasi, yang kemudian berdampak pada rantai pasok pangan. Di Inggris, para petani memperingatkan bahwa harga makanan kemungkinan akan naik karena biaya produksi meningkat, terutama akibat lonjakan harga gas dan bahan bakar.
Kondisi ini juga memicu kekhawatiran bahwa inflasi kembali meningkat. Bank of England memperingatkan bahwa konflik ini dapat memicu kenaikan inflasi dan berdampak pada suku bunga serta biaya pinjaman rumah tangga.
Pemerintah Inggris disebut akan menggelar rapat darurat untuk membahas dampak perang terhadap ekonomi domestik, termasuk kemungkinan bantuan energi bagi rumah tangga dan langkah untuk menekan kenaikan biaya hidup.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa kekuatan militer Iran telah dilemahkan dan perang bisa segera berakhir. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan Iran masih mampu melancarkan serangan jarak jauh dan belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan operasi militernya.
Dengan serangan yang masih berlangsung dan jalur energi global terganggu, konflik ini tidak hanya menjadi krisis militer regional, tetapi juga mulai berdampak langsung pada ekonomi global dan biaya hidup masyarakat di berbagai negara.










