PROGRES.ID – Kelompok analisis perang dari Tasnim News Agency melaporkan bahwa kapal perusak (destroyer) milik Amerika Serikat yang terlibat dalam operasi militer di kawasan Timur Tengah diduga mulai mengalami penurunan persediaan amunisi.
Laporan tersebut menyebut indikasi ini menguat setelah beredarnya gambar peluncuran rudal jelajah dari kapal selam AS di dekat Siprus. Situasi itu dinilai menunjukkan bahwa kapal perusak yang sebelumnya aktif dalam misi ofensif kemungkinan telah menggunakan sebagian besar persenjataannya atau mengalami penipisan stok.
Kapal Perang Tak Bisa Isi Ulang di Laut
Salah satu faktor penting yang disorot adalah keterbatasan logistik kapal perang. Kapal jenis perusak maupun kapal selam tidak dapat mengisi ulang rudal saat berada di tengah laut.
Artinya, untuk kembali mendapatkan persenjataan penuh, kapal-kapal tersebut harus kembali ke pangkalan militer.
Kondisi ini berpotensi menciptakan jeda dalam operasi militer, sekaligus mengurangi intensitas serangan dalam jangka pendek.
Kemampuan Tempur Diduga Menurun
Menurut analisis tersebut, sejumlah kapal perang AS di kawasan—terutama jenis Arleigh Burke-class destroyer—diperkirakan mengalami penurunan kemampuan tempur, khususnya dalam aspek ofensif.
Selain itu, potensi dampak juga bisa dirasakan pada kemampuan pertahanan, mengingat penggunaan sistem pertahanan udara juga bergantung pada ketersediaan amunisi.
Konflik Masih Berlanjut
Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat sejak operasi militer besar dilancarkan pada akhir Februari, menyusul terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat militer dan warga sipil.
Serangan tersebut mencakup berbagai target militer dan sipil di Iran, yang menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur.
Iran Lakukan Serangan Balasan
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangkaian serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan posisi Amerika Serikat dan Israel di kawasan, termasuk pangkalan militer.
Hingga saat ini, situasi konflik masih terus berkembang, sementara berbagai klaim dari masing-masing pihak belum sepenuhnya dapat diverifikasi secara independen.












