Serangan Intens Hizbullah Bikin Israel Ubah Strategi, Wilayah Selatan Disebut Rentan

favicon progres.id
kerusakan di nahariyah israel
Bangunan yang hancur lebur akibat serangan rudal Hizbullah (Foto: Telegram)

PROGRES.ID – Laporan intelijen terbaru mengungkap perubahan signifikan dalam strategi pertahanan Israel setelah serangan berkelanjutan dari kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah. Tekanan militer yang meningkat disebut memaksa Israel mengalihkan sistem pertahanan udaranya ke wilayah utara, sehingga membuka celah di kawasan selatan.

Sistem Pertahanan Dialihkan ke Utara

Berdasarkan analisis yang dibagikan kepada Press TV, intensitas serangan Hezbollah di wilayah utara dan area perbatasan Lebanon telah memicu pergeseran besar dalam penempatan militer Israel.

Israel dilaporkan memindahkan sebagian sistem pertahanan udara dari wilayah selatan ke utara guna merespons ancaman yang meningkat. Namun, langkah ini justru menciptakan kerentanan baru di wilayah selatan yang kini dinilai lebih terbuka terhadap serangan udara.

Intelijen Israel Dinilai Salah Perhitungan

Laporan tersebut juga menyoroti dugaan kesalahan perhitungan intelijen Israel terkait kemampuan Hezbollah. Sebelumnya, kelompok tersebut diperkirakan tidak memiliki kapasitas untuk melancarkan serangan besar-besaran.

Namun, sejak awal Maret, situasi berubah drastis. Hizbullah dilaporkan meningkatkan intensitas operasi militernya, termasuk serangan terhadap target militer dan intelijen Israel di berbagai wilayah.

Koordinasi dengan Iran Jadi Faktor Kunci

Sejumlah analis menyebut keberhasilan operasi terbaru tidak lepas dari koordinasi antara Hizbullah dan Iran.

Salah satu sumber menyatakan bahwa serangan ke sejumlah target strategis di wilayah selatan Israel, termasuk kawasan Dimona, merupakan hasil dari koordinasi tersebut. Pergeseran posisi pasukan Israel disebut turut mempermudah pelaksanaan serangan.

Intensitas Serangan Meningkat Tajam

Dalam beberapa hari terakhir, Hizbullah dilaporkan meningkatkan tempo operasi secara signifikan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, kelompok tersebut disebut mampu melancarkan hingga dua serangan dalam satu jam.

Salah satu serangan yang menjadi sorotan adalah peluncuran rudal yang diklaim mencapai jarak hingga 200 kilometer ke dalam wilayah Israel.

Selain itu, serangan terhadap pasukan darat Israel di sektor utara juga disebut memberikan dampak besar terhadap kekuatan militer di lapangan.

Pada Senin lalu, Hizbullah dilaporkan melakukan hingga 62 operasi militer dalam satu hari—angka tertinggi sejak konflik meningkat. Intensitas ini disebut memberi tekanan besar terhadap sistem pertahanan Israel.

Tekanan berlapis dari Hizbullah dinilai membuat Israel harus menghadapi dinamika medan perang yang semakin kompleks. Selain membuka celah dalam sistem pertahanan, situasi ini juga memunculkan pertanyaan baru terkait efektivitas strategi dan analisis intelijen sebelumnya.

Meski demikian, klaim dalam laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Perkembangan di lapangan masih terus berubah seiring meningkatnya eskalasi konflik di kawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *