PROGRES.ID – Serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran dilaporkan turut dipicu oleh rencana intelijen Israel yang berupaya memicu pemberontakan internal untuk menggulingkan pemerintahan Iran. Namun, rencana tersebut dilaporkan gagal, meskipun serangan besar telah dilakukan dan sejumlah petinggi Iran tewas.
Laporan media The New York Times yang juga dibahas oleh media Israel menyebut bahwa Kepala Mossad, David Barnea, telah menyampaikan rencana kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelum perang dimulai. Dalam rencana tersebut, Mossad memperkirakan bahwa setelah para pemimpin Iran terbunuh, lembaga intelijen Israel dapat menggerakkan oposisi di dalam negeri Iran untuk memicu pemberontakan massal.
Rencana tersebut disebut mencakup operasi intelijen untuk memicu kerusuhan, pembangkangan sipil, dan berbagai bentuk perlawanan yang diharapkan dapat menyebabkan runtuhnya pemerintahan Iran dari dalam. Netanyahu dilaporkan membahas rencana tersebut saat meyakinkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mendukung perang melawan Iran.
Tujuan utama dari strategi tersebut adalah mengakhiri perang dengan cepat melalui keruntuhan pemerintahan Iran dari dalam negeri. Namun, skenario itu tidak terjadi. Bahkan setelah serangan pada 28 Februari yang menewaskan sedikitnya 48 petinggi Iran termasuk Ayatullah Ali Khamenei, pemberontakan massal yang diharapkan tidak pernah terjadi.
Sebaliknya, laporan menyebut banyak warga Iran justru turun ke jalan untuk menyatakan dukungan kepada pemerintah dan mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel. Setelah kematian Ali Khamenei, putranya Mojtaba Khamenei segera ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, sementara kematian pejabat tinggi lainnya juga tidak memicu jatuhnya pemerintahan.
Upaya lain untuk menjatuhkan pemerintah Iran, termasuk dugaan rencana melibatkan milisi Kurdi dari luar Iran, juga dilaporkan tidak berhasil setelah militer Iran memberikan respons peringatan.
Meski demikian, pejabat Israel dilaporkan masih berharap pergantian rezim di Iran tetap bisa terjadi. Namun, menurut laporan tersebut, Netanyahu secara pribadi menyatakan kekecewaannya karena rencana Mossad untuk memicu pemberontakan tidak berjalan sesuai harapan.
Dalam pertemuan keamanan di awal perang, Netanyahu dilaporkan mengeluhkan kegagalan rencana tersebut dan menyatakan bahwa Presiden Trump dapat menghentikan perang kapan saja jika tujuan tidak tercapai.
Menanggapi laporan tersebut, analisis intelijen Israel menyebut bahwa pemerintahan Iran memang berpotensi runtuh, namun kemungkinan itu baru bisa terjadi di akhir perang dan prosesnya dapat memakan waktu berbulan-bulan hingga satu tahun.
Laporan juga menyebut bahwa ini bukan pertama kalinya Mossad mencoba memicu kerusuhan massal di Iran. Dalam setahun terakhir, disebutkan sudah beberapa kali upaya serupa dilakukan, termasuk melalui operasi perang psikologis, operasi siber, serta dukungan teknis untuk membantu komunikasi kelompok oposisi di Iran.
Salah satu operasi yang pernah dilaporkan adalah pembajakan siaran televisi Iran yang menayangkan rekaman protes dan ajakan kepada masyarakat untuk turun ke jalan. Aksi tersebut secara luas dikaitkan dengan operasi siber yang melibatkan Mossad dan Unit 8200 milik militer Israel.
Namun sejumlah analis menilai Amerika Serikat dan Israel kemungkinan salah perhitungan. Intervensi asing dalam bentuk serangan militer justru sering kali membuat masyarakat bersatu mendukung pemerintah, bukan memberontak. Faktor sejarah seperti kudeta 1953 dan perang Iran–Irak disebut masih mempengaruhi sikap masyarakat Iran terhadap intervensi asing.
Analis menilai asumsi bahwa ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah akan otomatis berubah menjadi pemberontakan saat perang berlangsung ternyata tidak terbukti. Dalam banyak kasus, perang justru membuat masyarakat lebih memilih berlindung pada negara daripada mencoba menggulingkan pemerintahan di tengah konflik.












