PROGRES.ID – Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbia memaparkan perkembangan terbaru operasi militer balasan Iran terhadap musuh pada hari ke-26 dalam rangkaian Operasi True Promise 4 (Janji Sejati 4).
Dalam gelombang ke-79 yang berlangsung Rabu, Pasukan Dirgantara Garda Revolusi Islam (IRGC) bersama Angkatan Laut IRGC dilaporkan menyerang sejumlah target strategis. Sasaran tersebut meliputi stasiun penerima satelit militer Israel serta beberapa pangkalan udara, di antaranya Pangkalan Udara Al Azraq (Muwaffaq Salti), Shaikh Isa, Ali Al Salem, serta pangkalan militer Amerika di Camp Arifjan. Serangan dilakukan menggunakan rudal jarak jauh dan menengah berbahan bakar padat dan cair, serta drone tempur dalam operasi yang disebut berlangsung berkelanjutan.
Dinukil dari TasnimNews, pada gelombang ke-80, Iran kembali melancarkan serangan rudal berat yang menargetkan pusat-pusat strategis, militer, dan keamanan Israel di wilayah utara Palestina yang diduduki. Serangan ini disebut berlangsung bersamaan dengan ofensif yang dilakukan oleh kelompok Hizbullah.
Memasuki gelombang ke-81, Iran mengklaim rudal Emad, Qiam, Khorramshahr-4, dan Qadr menghantam lebih dari 70 titik di wilayah yang dikuasai Israel. Beberapa wilayah yang disebut menjadi sasaran antara lain Haifa, Dimona, dan Hadera.

Selain itu, Iran juga mengklaim sistem pertahanan udara canggih Angkatan Laut IRGC berhasil mengenai sebuah pesawat tempur F-18 milik Amerika Serikat di dekat kota Chabahar, Iran tenggara, dengan dukungan jaringan pertahanan udara terintegrasi nasional.
Dalam 24 jam terakhir, Iran juga melaporkan serangan rudal yang menargetkan lokasi berkumpulnya pasukan Amerika dan kelompok separatis yang disebut didukung oleh kekuatan Amerika dan Zionis di Erbil.
Sementara itu, rudal jelajah yang diluncurkan dari sistem pesisir Qadeer ke arah kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan membuat kapal perang Amerika tersebut mengubah posisinya.
Konflik ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran menyusul pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari.
Serangan tersebut dilaporkan mencakup serangan udara ke berbagai lokasi militer dan sipil di Iran yang menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur.
Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan operasi militer dengan menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan militer di kawasan menggunakan gelombang serangan rudal dan drone.












