PROGRES.ID – Laporan terbaru Kongres Amerika Serikat menyoroti menipisnya persediaan sistem pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di tengah konflik yang sedang berlangsung dengan Iran.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa militer Amerika Serikat telah kehilangan sekitar sepertiga dari total amunisi sistem pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense selama konflik berlangsung. Selain itu, beberapa radar THAAD juga dilaporkan hancur dan tidak dapat segera digantikan karena proses produksi dan penggantian membutuhkan waktu hingga beberapa tahun.
Akibat berkurangnya sistem pertahanan tersebut, sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah Teluk Persia bagian selatan disebut berada dalam kondisi rentan terhadap serangan rudal Iran.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa setelah melemahkan sistem pertahanan udara Israel, Iran kini disebut mengalihkan fokus serangannya ke fasilitas industri yang memproduksi sistem pertahanan, rudal, dan radar.
Jika serangan terhadap fasilitas produksi tersebut terus berlanjut, maka kemampuan produksi sistem pertahanan udara Israel disebut berisiko mengalami gangguan serius, bahkan terancam berhenti.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik yang berlangsung tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga menyasar kemampuan produksi dan sistem pertahanan kedua belah pihak.












