Trump Hina MBS di Depan Investor Arab Saudi, Sebut Harus “Jilat” AS di Tengah Ketegangan Global

favicon progres.id
trump dan mbs
Presiden AS Donald J Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) (Foto: Responsible Statcraft)

PROGRES.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuai sorotan setelah pernyataannya terhadap Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), dalam sebuah forum investasi di Miami.

Pernyataan tersebut terekam dalam siaran C-SPAN saat Trump berbicara di Saudi Investors Forum pada 27 Maret 2026. Dalam pidatonya, Trump awalnya memuji Mohammed bin Salman sebagai pemimpin yang sukses dan berpengaruh.

Namun, nada pidato berubah ketika Trump menyiratkan bahwa posisi pemimpin Saudi itu bergantung pada hubungan dengan Amerika Serikat. Ia melontarkan komentar yang dinilai merendahkan dengan mengatakan bahwa MBS kini perlu “menjilat” untuk menjaga kedekatan dengan dirinya di tengah dinamika global.

Ucapan tersebut disampaikan di hadapan peserta forum dan disambut dengan reaksi tawa dari sebagian audiens. Trump juga menegaskan pentingnya hubungan personal antara dirinya dan pemimpin Saudi dalam situasi geopolitik saat ini.

Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali menyinggung upaya normalisasi hubungan negara-negara Teluk dengan Israel melalui skema Perjanjian Abraham. Ia menyatakan bahwa momentum tersebut perlu dimanfaatkan setelah meningkatnya tekanan terhadap Iran.

Sementara itu, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah terus memanas. Serangan Iran terhadap pangkalan militer di Arab Saudi dilaporkan menyebabkan korban di pihak militer Amerika Serikat. Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa serangan dilakukan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan Pangkalan Udara Pangeran Sultan.

Dalam insiden tersebut, beberapa pesawat militer, termasuk pesawat pengisian bahan bakar, dilaporkan mengalami kerusakan. Sejak konflik meningkat, korban di pihak Amerika Serikat dilaporkan mencapai puluhan orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Di tengah kondisi tersebut, Trump menyatakan bahwa proses diplomasi masih berlangsung dan menunjukkan perkembangan positif. Namun, klaim tersebut dibantah oleh Iran. Pada saat yang sama, Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan dengan menambah pasukan serta armada tempur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *