PROGRES.ID – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi membantah tegas laporan yang menyebut adanya peluncuran rudal dari Iran ke wilayah Turki. Ia menyebut informasi tersebut tidak berdasar dan memperingatkan kemungkinan adanya operasi provokasi atau false flag.
Pernyataan itu disampaikan Araqchi dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan pada Selasa. Keduanya membahas perkembangan terbaru di kawasan serta bertukar pandangan terkait isu-isu yang sedang berlangsung.
Dalam pembicaraan tersebut, Fidan menyinggung pertemuan empat negara di Islamabad yang dihadiri menteri luar negeri Turki, Pakistan, Arab Saudi, dan Mesir. Ia menekankan adanya dukungan regional untuk menghentikan konflik serta mendorong terciptanya stabilitas dan perdamaian.
Araqchi kemudian memaparkan situasi terkini terkait konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan pentingnya peran seluruh negara untuk mengecam tindakan yang disebutnya sebagai agresi, termasuk serangan terhadap sekolah, universitas, pusat ilmiah, situs budaya dan sejarah, infrastruktur energi, serta kawasan permukiman.
Ia juga menyoroti pernyataan pejabat Amerika Serikat yang dinilai mengancam infrastruktur energi dan produksi Iran. Menurutnya, ancaman tersebut merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap prinsip hukum internasional dan norma kemanusiaan, sehingga membutuhkan respons tegas dari komunitas global.
Terkait isu peluncuran rudal ke Turki, Araqchi menegaskan bahwa klaim tersebut sepenuhnya tidak benar. Ia memperingatkan adanya potensi upaya provokasi oleh pihak-pihak yang ingin merusak hubungan dan stabilitas kawasan.
Ia menambahkan bahwa Iran tetap berkomitmen pada prinsip hubungan bertetangga yang baik serta menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Turki. Iran juga menyatakan kesiapan untuk melakukan kerja sama teknis guna menyelidiki klaim tersebut.
Percakapan kedua menteri luar negeri juga mencakup pembahasan situasi regional yang terus berkembang.
Ketegangan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran yang menargetkan berbagai lokasi militer dan sipil.
Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan melalui gelombang rudal dan drone yang menyasar posisi Amerika Serikat dan Israel di kawasan.












