PROGRES.ID – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa Selat Hormuz kini berada sepenuhnya di bawah kendali angkatan laut mereka, di tengah meningkatnya operasi militer terhadap target Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Dalam pernyataan pada Rabu (1/3/2026), IRGC menegaskan situasi di jalur strategis tersebut berada dalam kontrol penuh pasukan lautnya.
IRGC juga menyebut intensitas serangan rudal Iran ke wilayah tengah Israel dan sejumlah bagian Timur Tengah sejak pagi hari bertolak belakang dengan klaim Tel Aviv dan Washington yang menyatakan serangan telah menurun hingga 90 persen.
Menurut IRGC, sejak dini hari 1 April, angkatan lautnya telah melaksanakan lima operasi berskala besar sebagai bagian dari gelombang ke-89 Operasi “True Promise 4”. Serangan dilakukan menggunakan kombinasi rudal balistik dan jelajah jenis Qadeer serta drone tempur untuk menghantam target militer utama milik AS dan Israel.
Dalam salah satu serangan, IRGC mengklaim telah menghancurkan dua sistem radar peringatan dini pertahanan udara milik AS yang ditempatkan di struktur maritim di perairan dan pulau-pulau Uni Emirat Arab.
Pernyataan itu juga menyebut sebuah kapal tanker minyak milik Israel bernama “Aqua 1” menjadi sasaran di perairan tengah Teluk Persia dan dilaporkan terbakar setelah terkena serangan rudal.
Selain itu, IRGC mengklaim telah menargetkan lokasi berkumpulnya pasukan AS di luar area pangkalan Armada Kelima di Bahrain menggunakan sejumlah drone dan rudal balistik. Laporan lapangan disebut menunjukkan sejumlah perwira angkatan laut dipindahkan ke rumah sakit di Manama pasca serangan.
Serangan juga diarahkan ke fasilitas persiapan helikopter Chinook serta hanggar penyimpanan peralatan di pangkalan Al-Udeiri dengan kombinasi rudal dan drone.
IRGC menambahkan bahwa beberapa gelombang drone diluncurkan menuju kelompok kapal induk AS USS Abraham Lincoln di Samudra Hindia utara. Berdasarkan citra satelit, kelompok kapal tersebut dilaporkan mundur dari posisi sebelumnya ke area laut yang lebih dalam.
Mengutip sumber intelijen, IRGC juga menyatakan serangan sebelumnya terhadap lokasi pertemuan perwira AS di Uni Emirat Arab mengakibatkan 37 orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka.
IRGC kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali penuh mereka dan tidak akan dibuka kembali di bawah tekanan yang disebut sebagai “manuver politik” Amerika Serikat.
Ketegangan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran yang menargetkan berbagai fasilitas militer dan sipil.
Sebagai balasan, Iran melakukan serangkaian serangan rudal dan drone yang menyasar posisi AS dan Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan-pangkalan militer di kawasan.












