PROGRES.ID, BEIRUT — Keputusan Israel untuk menghentikan operasi militer sambil tetap mempertahankan sejumlah titik penetrasi di Lebanon selatan dinilai tidak akan menghasilkan stabilitas jangka panjang di kawasan.
Penilaian tersebut disampaikan jurnalis dan peneliti politik Lebanon, Wiva Al-Badawi, yang menilai langkah Israel lebih merupakan manuver politik daripada upaya nyata untuk mengakhiri konflik.
Dalam analisanya, Al-Badawi menyebut keputusan tersebut tidak dapat dipisahkan dari perkembangan terbaru di kawasan, terutama setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi pelayaran yang terkait dengan Israel dan negara-negara pendukungnya.
Menurutnya, langkah Israel menghentikan tembakan tanpa menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan merupakan bagian dari upaya yang didukung Amerika Serikat untuk meredam dampak politik dan ekonomi yang ditimbulkan oleh krisis Selat Hormuz.
“Keputusan pendudukan Israel untuk menghentikan tembakan sambil tetap mempertahankan titik-titik penetrasi di Lebanon selatan merupakan manuver Amerika untuk meredam guncangan akibat penutupan Selat Hormuz,” ujar Al-Badawi.
Ia menilai kebijakan tersebut masih bersifat parsial karena tidak menyentuh akar persoalan utama, yakni keberadaan pasukan Israel di wilayah Lebanon.
Menurut Al-Badawi, kelompok-kelompok perlawanan di Lebanon secara prinsip tidak akan menerima keberlanjutan kehadiran militer Israel di wilayah yang mereka anggap sebagai bagian dari kedaulatan nasional Lebanon.
Karena itu, ia meyakini bahwa setiap upaya mencapai kesepakatan politik atau keamanan akan sulit berhasil selama pasukan Israel masih mempertahankan posisi di wilayah Lebanon selatan.
“Realitas pendudukan darat berada dalam lingkaran penolakan struktural dari pihak perlawanan,” katanya.
Al-Badawi menegaskan bahwa penarikan penuh dan menyeluruh pasukan Israel dari seluruh wilayah Lebanon merupakan syarat utama bagi terciptanya kesepakatan yang berkelanjutan.
Menurutnya, tanpa langkah tersebut, berbagai pengaturan keamanan maupun gencatan senjata hanya akan menjadi solusi sementara yang berisiko memicu kembali ketegangan di masa mendatang.
Pernyataan Al-Badawi muncul di tengah meningkatnya dinamika geopolitik kawasan setelah Iran mempertahankan kebijakan penutupan Selat Hormuz dan pertempuran antara Israel serta Hizbullah masih berlangsung di sejumlah wilayah Lebanon selatan.
Situasi tersebut menambah ketidakpastian terhadap prospek stabilitas kawasan sekaligus meningkatkan kekhawatiran dunia internasional terhadap keamanan jalur energi global dan kemungkinan meluasnya konflik di Timur Tengah.












