PROGRES.ID, TEHERAN – Penasihat senior Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, Mohammad Mokhber, memperingatkan bahwa kegagalan menerapkan kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat dapat memicu gangguan besar terhadap pasokan energi di kawasan Timur Tengah.
Peringatan tersebut disampaikan Mokhber melalui akun X miliknya pada Sabtu (21/6/2026), menyusul tudingan bahwa salah satu poin utama dalam memorandum of understanding (MoU) Iran-AS belum dijalankan sebagaimana mestinya.
Menurut Mokhber, kesepakatan yang hanya berhenti sebagai dokumen tanpa implementasi nyata akan membawa konsekuensi serius bagi stabilitas kawasan.
“Jika sebuah perjanjian hanya tinggal di atas kertas, maka aliran energi di Timur Tengah juga bisa terhenti,” tulisnya.
Ia menegaskan bahwa pihak Amerika Serikat memahami dampak ekonomi dan biaya strategis dari setiap keputusan yang diambil dalam konflik regional.
“Amerika memahami bahasa ekonomi dan perhitungan untung-rugi lebih baik daripada yang lain,” tambahnya.
Iran Tuntut Implementasi Penuh Kesepakatan
Mokhber menegaskan tim negosiator Iran tidak akan menerima pelaksanaan setengah hati terhadap isi perjanjian. Menurutnya, seluruh komitmen yang telah disepakati harus dijalankan sepenuhnya, termasuk pemenuhan hak-hak Iran yang tercantum dalam dokumen tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan melupakan korban yang jatuh selama konflik berlangsung.
“Kami tidak akan memaafkan dan tidak akan melupakan darah para syuhada,” katanya.
MoU Mulai Berlaku Setelah Negosiasi Berbulan-bulan
Memorandum of Understanding yang ditandatangani Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai berlaku pada 17 Juni setelah melalui proses negosiasi intensif yang dimediasi Pakistan dan didukung sejumlah negara kawasan.
Kesepakatan yang terdiri atas 14 poin itu membuka masa perundingan selama 60 hari untuk menyusun perjanjian komprehensif yang bersifat permanen.
Salah satu poin utama dalam MoU tersebut adalah penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di berbagai front konflik, termasuk di Lebanon. Kedua pihak juga berkomitmen untuk tidak memulai perang baru, menghindari penggunaan kekuatan militer, serta menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon.
Dokumen itu juga menyebut bahwa perjanjian final nantinya harus memastikan berakhirnya konflik secara permanen di seluruh kawasan yang terdampak.
Serangan di Lebanon Picu Ketegangan
Namun, situasi di lapangan masih jauh dari harapan. Israel yang tidak terlibat dalam proses perundingan dilaporkan tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan dan timur.
Badan Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan sedikitnya 16 orang tewas dan 12 lainnya terluka akibat serangan terbaru yang menghantam Distrik Nabatieh pada Sabtu.
Korban tersebut menambah jumlah korban sehari sebelumnya ketika Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 47 orang meninggal dunia dan 97 lainnya mengalami luka-luka akibat rangkaian serangan udara di berbagai wilayah Lebanon.
Teheran menilai serangan yang terus berlanjut itu sebagai pelanggaran terhadap poin pertama dalam MoU yang telah disepakati bersama Washington.
Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz
Di tengah meningkatnya ketegangan, Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran pada Sabtu mengumumkan penutupan Selat Hormuz sebagai respons terhadap apa yang disebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Iran menuding Amerika Serikat gagal memastikan pelaksanaan penuh MoU, sementara Israel terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan.
Keputusan terkait Selat Hormuz langsung menjadi perhatian internasional mengingat jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia, yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global.
Para analis menilai setiap gangguan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga energi dan memperbesar risiko ketidakstabilan ekonomi global.












