PROGRES.ID – Kelompok perlawanan Lebanon, Hezbollah, melancarkan serangkaian serangan drone dan roket ke posisi militer Israel di wilayah utara wilayah pendudukan. Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel.
Dalam pernyataan resminya seperti dilansir PressTV, Hizbullah menyebut telah menargetkan pangkalan Amiad yang terletak di utara Danau Galilea menggunakan sejumlah drone bunuh diri. Serangan tersebut memicu sirene peringatan serangan udara di berbagai wilayah di utara Israel.
Media Israel melaporkan sirene peringatan berbunyi di sejumlah permukiman seperti Misgav Am dan Kiryat Shmona di wilayah Galilea, menyusul kekhawatiran adanya infiltrasi drone dari Lebanon. Media Lebanon juga melaporkan bahwa drone melintas dari wilayah Lebanon menuju wilayah utara Israel, yang kemudian diikuti dengan aktivasi sistem alarm di Galilea Atas.
Selain serangan drone, Hizbullah juga mengklaim menargetkan konsentrasi pasukan dan kendaraan militer Israel di posisi Misgav Am menggunakan roket. Sirene peringatan tambahan juga dilaporkan berbunyi di wilayah Yir’on di Galilea Barat.
Di sisi lain, militer Lebanon menyatakan bahwa mereka sedang melakukan reposisi dan penempatan ulang pasukan di kota-kota perbatasan selatan menyusul meningkatnya serangan Israel. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah pasukan mereka terkepung, terisolasi, atau terputus jalur logistik akibat pergerakan militer Israel.
Militer Lebanon juga menuduh serangan Israel terus berlangsung di berbagai wilayah tanpa membedakan antara target militer dan warga sipil. Meski menghadapi tekanan besar dan tantangan operasional, militer Lebanon menyatakan akan tetap menjalankan tugasnya dan berupaya membantu warga sipil semaksimal mungkin.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa operasi militer Israel masih terus berlangsung dan pasukan Israel akan terus memperkuat apa yang disebut sebagai “zona keamanan” di sekitar perbatasan, termasuk di Gaza, Lebanon selatan, dan sebagian wilayah Suriah selatan.
Menurut laporan media Israel, Netanyahu mengklaim bahwa Israel kini menguasai lebih dari 50 persen wilayah Gaza serta mencatat kemajuan militer di Lebanon dan Suriah. Ia juga menyebut Israel telah membentuk zona keamanan yang lebih dalam di luar perbatasannya, termasuk di wilayah Suriah dari Gunung Hermon hingga kawasan Yarmouk, serta di Lebanon melalui zona penyangga luas yang bertujuan mengurangi ancaman Hizbullah.
Rencana zona penyangga yang lebih luas di Lebanon selatan juga mulai dibahas secara terbuka oleh pejabat Israel. Bahkan, ada pernyataan bahwa zona keamanan akan diperluas hingga Sungai Litani, dan ratusan ribu warga Lebanon yang mengungsi disebut tidak akan diizinkan kembali sebelum keamanan wilayah utara Israel dipastikan.
Netanyahu juga mengklaim bahwa beberapa negara Arab sedang mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan Israel dalam menghadapi Iran. Ia menyebut selama bertahun-tahun telah melakukan pembicaraan rahasia dengan sejumlah pemimpin Arab terkait ancaman Iran terhadap pemerintahan mereka.
Namun, di dalam negeri Israel sendiri, kritik terhadap Netanyahu terus meningkat. Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, mengecam pernyataan Netanyahu dan menilai perdana menteri tersebut mengabaikan kenyataan di lapangan, ketika tentara Israel masih tewas dalam pertempuran di Lebanon dan wilayah utara Israel terus berada di bawah serangan.
Lapid menilai kondisi tersebut justru menunjukkan bahwa konflik telah memecah belah masyarakat Israel dari dalam.












