Douglas MacGregor Soroti Salah Perhitungan AS dalam Konflik Iran, Peringatkan Risiko Eskalasi Besar

favicon progres.id
douglas macgregor
Douglas Macgregor (Foto: CNN)

PROGRES.ID – Analis militer dan mantan penasihat Pentagon, Douglas MacGregor, menilai kebijakan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran dipenuhi kesalahan perhitungan strategis dan berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan.

Dalam wawancara terbaru, MacGregor menyebut tidak adanya perencanaan matang sebelum operasi militer dimulai. Ia menggambarkan pengambilan keputusan di Washington yang cenderung bersifat impulsif dan tidak berbasis strategi jangka panjang.

Menurutnya, Amerika Serikat sempat melihat peluang untuk mengguncang stabilitas internal Iran melalui tekanan ekonomi dan gelombang protes domestik. Namun, upaya tersebut dinilai gagal setelah pemerintah Iran mampu mempertahankan kendali, termasuk atas militer dan sistem pertahanan udara.

MacGregor juga mengklaim bahwa operasi intelijen yang melibatkan badan-badan seperti CIA, Mossad, dan MI6 turut berperan dalam memanfaatkan situasi protes di Iran. Meski demikian, ia menilai pendekatan tersebut tidak membuahkan hasil signifikan.

Ia menyoroti kerja sama antara Iran dan Turki dalam menghadapi ancaman keamanan yang menurutnya tidak diantisipasi oleh pihak Barat. Hal ini, kata dia, mencerminkan kepentingan bersama kedua negara dalam menjaga stabilitas kawasan.

Lebih lanjut, MacGregor menyebut bahwa ekspektasi Washington untuk menjatuhkan pemerintahan Iran dengan cepat terbukti keliru. Ia menilai militer Iran tetap solid dan tidak menunjukkan tanda-tanda perpecahan internal.

Di sisi lain, ia mengungkap adanya kemungkinan perubahan strategi militer AS setelah kampanye udara dinilai tidak efektif. Ia memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat mengarah pada peningkatan intensitas konflik.

MacGregor juga menyinggung potensi penggunaan senjata nuklir oleh Israel jika situasi memburuk. Ia menyebut skenario tersebut sebagai risiko nyata yang dapat memicu konflik berskala besar di Timur Tengah.

Menurutnya, Iran memiliki kapasitas untuk merespons secara signifikan, mengingat ukuran wilayah dan jumlah penduduknya yang besar. Ia menilai penggunaan senjata nuklir justru berpotensi memperluas konflik, bukan mengakhirinya.

Selain itu, MacGregor menyoroti peran Rusia dan China yang dinilai memiliki kepentingan strategis dalam menjaga stabilitas Iran. Ia memperingatkan bahwa keterlibatan kedua negara tersebut dapat memperumit situasi jika konflik terus berlanjut.

Ia juga mengkritik tuntutan Amerika Serikat terhadap Iran, termasuk penghentian program nuklir dan pengurangan kapasitas militer, yang dinilainya tidak realistis bagi negara berdaulat.

Dalam analisisnya, MacGregor memperkirakan konflik berpotensi meningkat dalam waktu dekat jika tidak ada perubahan kebijakan. Ia menyebut opsi invasi darat sebagai langkah yang tidak realistis mengingat kompleksitas geografis dan demografis Iran.

Ia menambahkan bahwa perang berkepanjangan dapat berdampak luas, termasuk terhadap ekonomi global, rantai pasok energi, serta stabilitas kawasan.

Di tengah situasi tersebut, MacGregor menyerukan perubahan pendekatan dari Washington, termasuk membuka ruang diplomasi dan mengakhiri kebijakan yang dinilai justru memperburuk konflik.

Ia menilai tanpa langkah tersebut, risiko eskalasi menuju konflik yang lebih besar akan semakin sulit dihindari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *