PROGRES.ID – Sejumlah anggota parlemen di Amerika Serikat mengecam pidato Presiden Donald Trump terkait perang dengan Iran, yang dinilai berisi klaim tidak sesuai fakta serta pernyataan yang dianggap menyesatkan mengenai tujuan dan hasil operasi militer yang sedang berlangsung.
Pidato tersebut disampaikan Trump dalam siaran nasional dari Gedung Putih di Washington pada Rabu malam (1/4/2026). Dalam pidato berdurasi sekitar 20 menit itu, Trump kembali menyatakan bahwa tujuan strategis utama operasi militer AS dan Israel di Iran hampir tercapai dan memperkirakan perang akan berakhir dalam dua hingga tiga minggu.
Namun, pidato tersebut langsung memicu reaksi pasar global. Setelah pidato Trump berakhir, harga minyak mentah Brent sebagai acuan global dilaporkan melonjak sekitar 5 persen hingga mencapai 106 dolar AS per barel. Pasar saham di kawasan Asia juga dilaporkan mengalami penurunan.
Dalam pidatonya, Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran, termasuk ancaman untuk menghancurkan negara itu dan menargetkan infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan fasilitas minyak.
Anggota Kongres AS, Yassamin Ansari, mengkritik keras pernyataan Trump yang mengancam akan membawa Iran “kembali ke zaman batu” dan menyebut pernyataan tersebut sebagai pernyataan yang mengerikan dan tidak pantas diucapkan terhadap sebuah negara dengan puluhan juta penduduk.
Anggota Kongres lainnya, Jim Himes, menyoroti dampak pidato tersebut terhadap harga minyak yang langsung naik dalam waktu singkat setelah pidato berakhir. Ia juga menyatakan tidak jelas apa sebenarnya yang ingin disampaikan presiden dalam pidato tersebut.
Senator Chris Van Hollen juga menuduh Trump telah berbohong kepada publik Amerika ketika sebelumnya menyatakan bahwa Amerika telah memenangkan perang. Ia menilai pernyataan tersebut berbahaya bagi Amerika Serikat dan dunia.
Sementara itu, anggota Kongres Lloyd Doggett menyebut banyak pernyataan Trump dalam pidato tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, termasuk klaim bahwa Amerika Serikat tidak mengalami inflasi.
Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, bahkan mempertanyakan apakah pernah ada pidato presiden tentang perang yang dinilai lebih tidak terarah dan tidak jelas dibandingkan dengan pidato Trump tersebut. Ia menilai kebijakan Trump terkait Iran bisa menjadi salah satu kesalahan kebijakan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Senator Ed Markey juga mengkritik Trump karena dianggap menyampaikan informasi yang tidak benar kepada rakyat Amerika serta melontarkan ancaman yang berpotensi melanggar hukum perang internasional.
Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sendiri dimulai pada akhir Februari, dan sejak itu Iran melancarkan gelombang serangan balasan menggunakan rudal balistik, rudal hipersonik, dan drone yang menargetkan berbagai posisi strategis Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah.












