PROGRES.ID – Sebuah perusahaan manufaktur drone Israel melaporkan kerusakan signifikan pada fasilitas produksinya setelah serangan rudal Iran pada 2 April menghantam kawasan industri di Petah Tikva, wilayah timur Tel Aviv.
Perusahaan keamanan dalam negeri Israel, Veloryx, menyatakan bahwa serangan tersebut berdampak langsung pada fasilitas yang digunakan oleh anak perusahaannya, AeroSol, yang bergerak dalam pengembangan dan produksi sistem drone militer. Drone produksi perusahaan tersebut diketahui digunakan oleh militer Israel serta diekspor ke sejumlah negara.
Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyebutkan bahwa pihaknya masih melakukan evaluasi terhadap tingkat kerusakan dan potensi dampaknya terhadap operasional produksi serta kontrak internasional yang sedang berjalan.
Kota Petah Tikva yang menjadi lokasi fasilitas tersebut merupakan salah satu kawasan industri penting di dekat Tel Aviv, yang menampung berbagai perusahaan teknologi dan pertahanan Israel.
Serangan ini terjadi di tengah konflik yang masih berlangsung antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat sejak 28 Februari 2026. Sejak awal konflik, Iran menyatakan akan membalas setiap serangan yang menargetkan wilayah Teheran dan sekitarnya dengan serangan balasan yang lebih besar.
Sejumlah analis menilai bahwa penargetan fasilitas manufaktur drone menunjukkan bahwa Iran mulai mengarahkan serangannya pada infrastruktur industri pertahanan Israel, bukan hanya target militer langsung. Hal ini dinilai berpotensi memengaruhi rantai produksi sistem pertahanan dan operasi militer Israel jika serangan serupa terus berlanjut.












