PROGRES.ID – Kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai belum menjamin meredanya konflik di kawasan. Ekonom sekaligus analis geopolitik Jeffrey Sachs menyebut kesepakatan tersebut lebih sebagai jeda sementara dibanding solusi permanen.
Dalam wawancara di kanal CNBC-TV18, Sachs menilai perang yang terjadi sebelumnya tidak menghasilkan keuntungan strategis bagi pihak mana pun, termasuk Israel dan Amerika Serikat.
“Pada akhirnya, tidak ada capaian nyata. Jalur pelayaran tetap terbuka seperti sebelumnya, dan struktur kekuasaan di Iran juga tidak berubah,” ujarnya.
Perang Dinilai Gagal Capai Tujuan
Sachs menilai konflik ini sejak awal dibangun di atas asumsi yang keliru. Ia menyebut ada keyakinan bahwa tekanan militer cepat dapat mengubah struktur kekuasaan di Iran, namun hal tersebut terbukti tidak realistis.
Menurutnya, perang justru berisiko memicu eskalasi lebih luas, termasuk gangguan besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Ia juga menyoroti bahwa Iran memiliki kapasitas untuk membalas secara signifikan jika konflik terus berlanjut.
Dunia Menuju Tatanan Multipolar
Dalam analisisnya, Sachs menegaskan bahwa dunia saat ini telah bergerak menuju sistem multipolar, di mana kekuatan global tidak lagi didominasi satu negara.
Namun, ia menilai Washington belum sepenuhnya menerima realitas tersebut. Pendekatan yang mengandalkan tekanan militer dan retorika keras dinilai tidak lagi efektif dalam menghadapi dinamika global saat ini.
Peluang Diplomasi dari Proposal Iran
Sachs juga menyoroti proposal 10 poin yang diajukan Iran sebagai dasar negosiasi. Jika benar-benar diimplementasikan, ia menilai kesepakatan tersebut berpotensi membawa stabilitas lebih luas di kawasan.
Beberapa poin utama dalam proposal itu mencakup penghentian agresi, pengurangan kehadiran militer asing di kawasan Teluk, serta upaya menghentikan konflik regional secara menyeluruh.
Menurut Sachs, jika langkah-langkah tersebut dijalankan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Iran, tetapi juga negara-negara lain yang terdampak konflik, termasuk stabilitas energi global.
Selat Hormuz Tetap Jadi Kunci
Salah satu faktor penting dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi dunia.
Sachs menilai Iran tetap memiliki kendali strategis atas jalur tersebut. Ia menyebut tidak ada solusi militer cepat untuk merebut kendali atas kawasan itu tanpa memicu perang besar.
“Upaya menguasai Selat Hormuz secara paksa berisiko memicu konflik skala penuh,” katanya.
Kritik terhadap Peran Israel
Sachs juga mengkritik kebijakan Israel yang dinilai memperburuk situasi kawasan. Ia menilai tindakan militer yang berulang justru memperpanjang konflik dan menghambat peluang perdamaian.
Menurutnya, komunitas internasional perlu mendorong penyelesaian berbasis hukum internasional dan menghentikan eskalasi yang dapat memicu konflik lebih luas.
Gencatan Senjata Masih Rentan
Meski gencatan senjata memberi ruang bagi diplomasi, Sachs mengingatkan bahwa kesepakatan ini sangat rapuh. Ia menilai masih ada kemungkinan upaya sabotase atau pelanggaran yang dapat memicu kembali konflik.
Namun demikian, ia menyebut jeda dua pekan ini sebagai peluang penting untuk mendorong penyelesaian damai.
“Ini adalah kesempatan untuk menghindari konflik yang lebih besar. Dunia perlu memastikan momentum ini tidak hilang,” ujarnya.
Hingga kini, situasi di kawasan masih berada dalam ketidakpastian, dengan berbagai pihak menunggu apakah gencatan senjata ini akan berlanjut menjadi kesepakatan damai atau justru berujung pada eskalasi baru.










