PROGRES.ID – Perang yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran dinilai tidak semata soal konflik militer, tetapi juga menyangkut kepentingan ekonomi global yang jauh lebih besar. Dalam wawancara terbaru bersama Glenn Diesen, akademisi Jiang Xueqin mengungkap bahwa inti pertarungan saat ini berkaitan erat dengan masa depan sistem “petrodolar”.
Menurut Jiang, konflik ini mencerminkan upaya Amerika Serikat mempertahankan dominasi dolar AS dalam perdagangan energi dunia. Dalam satu dekade terakhir, kepercayaan global terhadap sistem tersebut disebut mulai goyah, terutama setelah Washington membekukan aset Rusia dan meningkatkan penggunaan dolar sebagai alat tekanan geopolitik.
“Jika dolar bisa digunakan sebagai senjata terhadap satu negara, maka negara lain juga akan merasa rentan,” ujarnya.
Strategi Energi dan Tekanan Global
Dalam pandangan Jiang, strategi AS tidak hanya berbentuk operasi militer langsung, tetapi juga melalui pengendalian jalur perdagangan energi. Ia menilai Washington berupaya mengurangi pasokan minyak dari negara-negara seperti Iran, Rusia, dan Venezuela untuk mendorong ketergantungan dunia pada energi dari Amerika Utara.
Langkah ini, kata dia, berpotensi memaksa negara-negara di Eropa dan Asia Timur untuk tetap menggunakan dolar dalam transaksi energi—sebuah fondasi utama sistem petrodolar.
Namun, strategi tersebut juga dinilai berisiko memicu reaksi global. Jiang memperingatkan bahwa tekanan berlebihan justru dapat mempercepat upaya negara-negara lain mencari alternatif sistem keuangan, termasuk melalui kerja sama blok seperti BRICS atau peningkatan penggunaan emas dalam perdagangan internasional.
Negosiasi Gagal dan Eskalasi Baru
Wawancara tersebut juga menyoroti kegagalan perundingan antara AS dan Iran di Islamabad. Meski sempat ada indikasi kompromi, pembicaraan berakhir tanpa hasil.
Jiang menilai dinamika ini mencerminkan ketidakkonsistenan strategi Washington. Ia menduga negosiasi tersebut lebih berfungsi sebagai alat untuk mengukur respons pihak lain—terutama China—ketimbang benar-benar mencari solusi damai.
“AS tampaknya ingin mengetahui sejauh mana tekanan bisa diberikan tanpa memicu respons besar dari kekuatan lain,” ujarnya.
Tantangan Blokade dan Risiko Balasan
Rencana blokade laut terhadap Iran juga dipertanyakan efektivitasnya. Secara militer, Jiang menilai langkah tersebut sulit diterapkan karena risiko tinggi terhadap armada AS yang berada dalam jangkauan rudal Iran.
Selain itu, ia memperingatkan potensi efek berantai jika Iran membalas dengan menutup jalur strategis lain seperti Laut Merah melalui sekutunya di kawasan.
Situasi ini berpotensi memperluas gangguan terhadap rantai pasok energi global dan meningkatkan ketegangan di berbagai titik choke point maritim dunia.
Dampak ke China dan Rusia
Konflik ini juga berdampak signifikan terhadap China, yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Jiang menilai Beijing berada dalam posisi sulit, dengan keterbatasan opsi jangka pendek untuk mengamankan pasokan energi.
Sementara itu, Rusia dipandang sebagai aktor kunci dalam jangka panjang. Meski tidak mampu menandingi kekuatan laut AS secara langsung, Moskow disebut dapat menantang dominasi tersebut melalui strategi asimetris, termasuk perang kelelahan (attrition).
Pergeseran Arah Geopolitik
Jiang menilai dunia kini memasuki fase baru di mana konflik tidak lagi hanya terjadi antarnegara, tetapi juga antara dua pendekatan besar: globalisme dan nasionalisme.
Ia berpendapat kebijakan luar negeri AS ke depan akan semakin agresif dan berorientasi pada kontrol sumber daya serta jalur perdagangan, terlepas dari siapa yang memimpin di Gedung Putih.










