Setahun Menahan Diri, Bagaimana Hizbullah Mampu Menekan Israel?

favicon progres.id
pejuang Hizbullah
Pejuang Hizbullah (Foto: Hizbullah Electronic)

PROGRES.ID – Kelompok Hizbullah disebut mulai mengubah peta pertempuran melawan Israel setelah lebih dari satu tahun menjalankan strategi menahan diri, menyusul meningkatnya konflik di perbatasan Lebanon-Israel sejak awal Maret.

Dalam analisis yang dimuat media Iran Press TV, sumber keamanan yang disebut dekat dengan Hizbullah mengatakan kelompok itu kini terus melancarkan serangan roket dan drone ke posisi militer Israel serta kawasan permukiman di wilayah pendudukan.

Menurut sumber tersebut, penggunaan drone FPV berbasis serat optik menjadi salah satu faktor utama yang mengubah situasi lapangan. Drone jenis itu diklaim sulit dideteksi dan tidak mudah diganggu oleh sistem peperangan elektronik Israel.

Teknologi tersebut memungkinkan operator mengendalikan drone secara langsung melalui sambungan kabel serat optik, sehingga transmisi gambar dan kendali tetap berjalan meski berada di medan dengan gangguan sinyal tinggi.

Sumber itu juga menyebut Hizbullah terus memantau pergerakan pasukan Israel dan memahami sebagian rencana operasi mereka. Ia menggambarkan kondisi itu membuat pasukan Israel seperti menghadapi musuh yang tidak terlihat.

Pernyataan tersebut muncul di tengah narasi di Israel dan negara-negara Barat yang sebelumnya menilai Hizbullah telah melemah sejak perang besar pada 2024.

Namun, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, dalam sejumlah pidato terakhir menegaskan organisasinya telah pulih dan siap melanjutkan perlawanan.

Ia mengatakan kelompok itu tidak akan kembali ke situasi sebelum 2 Maret dan akan terus merespons setiap serangan Israel terhadap Lebanon.

Perang besar pada 2024 sebelumnya menewaskan sejumlah tokoh senior Hizbullah, termasuk mantan pemimpin Hassan Nasrallah serta penerusnya Hashem Safieddine. Serangan itu sempat memunculkan spekulasi bahwa kemampuan Hizbullah telah runtuh.

Namun, menurut sumber yang diwawancarai Press TV, periode gencatan senjata sejak akhir 2024 justru dimanfaatkan untuk membangun ulang struktur organisasi, memperbarui strategi, dan memperkuat kesiapan tempur.

Sumber lain yang disebut sebagai veteran pejuang Hizbullah mengatakan organisasi itu memahami bahwa gencatan senjata bukan akhir perang, melainkan fase konsolidasi.

hizbullah drone
Pejuang Hizbullah bersiap meluncurkan serangan drone (Foto: PressTV)

Di sisi lain, media Israel juga mulai menyoroti beban perang di front Lebanon. Sejumlah laporan menyebut pasukan Israel Defense Forces menghadapi tekanan berkepanjangan dan belum memiliki strategi keluar yang jelas.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan ribuan orang tewas dan terluka sejak gelombang serangan terbaru dimulai pada 2 Maret.

Hingga kini belum ada tanda-tanda konflik mereda, sementara kedua pihak terus saling melancarkan serangan lintas perbatasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *