Iran Kecam Serangan Rezim Israel di Beirut, Sebut Gencatan Senjata Kian Rapuh

favicon progres.id
kota beirut lebanon jadi sasaran zionis
Kota Beirut, Lebanon menjadi sasaran kebiadaban zionis Israel (Foto: TasnimNews)

PROGRES.ID – Iran mengecam keras serangan udara rezim zionis Israel yang menyasar kawasan permukiman di pinggiran selatan ibu kota Beirut di tengah situasi gencatan senjata yang semakin tidak menentu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan serangan yang terjadi pada Jumat dini hari itu telah menewaskan dan melukai sejumlah warga sipil Lebanon serta menghancurkan infrastruktur penting di kawasan tersebut.

Baghaei juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban tewas dan menegaskan solidaritas Iran terhadap rakyat serta pemerintah Lebanon menghadapi agresi Israel.

Ia turut mendoakan kesembuhan bagi para korban luka akibat serangan yang kembali mengguncang wilayah Dahiyeh, daerah yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.

Menurut Baghaei, operasi militer Israel di Lebanon, termasuk penggunaan senjata terlarang seperti bom fosfor, tidak lepas dari dukungan negara-negara Barat terhadap Tel Aviv.

Ia menuding Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris ikut bertanggung jawab atas tindakan militer Israel yang disebutnya sebagai kejahatan perang terhadap negara-negara di kawasan.

Selain itu, Iran juga mendesak Dewan Keamanan PBB dan komunitas internasional untuk mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Meski gencatan senjata diumumkan pada 17 April dan diperpanjang hingga 17 Mei, Israel disebut masih terus melancarkan serangan udara harian ke Lebanon serta menghancurkan rumah-rumah warga di puluhan desa.

Situasi tersebut dinilai memperlihatkan bahwa ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel masih jauh dari mereda, bahkan menyerupai pola serangan berkepanjangan yang terjadi di Gaza Strip.

Berdasarkan data resmi terbaru, serangan Israel ke Lebanon sejak 2 Maret telah menewaskan sedikitnya 2.700 orang, melukai lebih dari 8.300 lainnya, dan memaksa sekitar 1,6 juta warga mengungsi.

Israel juga masih mempertahankan keberadaan militernya di sejumlah wilayah di selatan Lebanon. Sebagian wilayah telah diduduki selama puluhan tahun, sementara area lainnya dikuasai sejak konflik 2023–2024. Dalam konflik terbaru, pasukan Israel dilaporkan telah bergerak hingga sekitar 10 kilometer melewati perbatasan selatan Lebanon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *