PROGRES.ID – Sikap pemerintah China terhadap meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai menunjukkan upaya Beijing untuk menjaga stabilitas kawasan tanpa ikut terseret dalam narasi konfrontatif Washington.
Pandangan itu disampaikan jurnalis dan peneliti politik, Wiva Al Badawi, yang menilai respons Kementerian Luar Negeri China lebih berorientasi pada diplomasi dibanding tekanan politik terbuka terhadap Iran.
Menurutnya, Beijing sengaja menghindari penggunaan bahasa keras seperti yang kerap digunakan Presiden AS Donald Trump. Sebaliknya, China kembali mengedepankan seruan tradisionalnya terkait pentingnya gencatan senjata dan penyelesaian politik.
“China tidak mengadopsi istilah konfrontatif ala Trump, melainkan kembali pada bahasa diplomatik yang menyerukan solusi politik,” tulis Wiva Al Badawi dalam analisanya.
Ia juga menyoroti bahwa Beijing tidak menyinggung isu biaya transit maupun mengecam Iran secara langsung. China justru menekankan pentingnya “kepentingan bersama”, yang dinilai sebagai sinyal bahwa stabilitas jalur pelayaran global hanya bisa dijaga melalui kerja sama dengan Teheran, bukan dengan mengisolasinya.
Dalam analisis tersebut, seruan China agar jalur navigasi internasional tetap dibuka dipandang lebih sebagai respons terhadap kekhawatiran dunia internasional ketimbang bentuk dukungan terhadap tekanan Amerika Serikat.
Wiva menilai Beijing berusaha menjaga jarak dari agenda politik Washington dan tidak ingin terlihat menjadi bagian dari proyek geopolitik AS di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, ia menyebut Washington tengah menjual “ilusi kesepakatan”, sementara Beijing mencoba menawarkan citra sebagai pihak yang mendorong perdamaian.
Meski demikian, menurutnya dinamika sesungguhnya tetap ditentukan oleh kondisi di lapangan, terutama pergerakan militer dan keamanan jalur distribusi energi global.
“Pada akhirnya, kapal tanker minyak dan realitas militerlah yang akan menentukan arah situasi,” tulisnya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir terus memicu kekhawatiran global, terutama terkait keamanan jalur energi dan potensi dampaknya terhadap ekonomi dunia.












