AS Kalah dari Iran, Kini Lemah di Hadapan China

favicon progres.id
trump meet xi jinping
Pertemuan Presiden RRT Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump (Foto: BBC News)

PROGRES.ID – Jurnalis Amerika, Max Blumenthal, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait konflik Iran dan dampaknya terhadap posisi Washington di panggung global.

Dalam pernyataannya, Blumenthal menilai pemerintahan Trump telah menempatkan Amerika Serikat pada posisi yang jauh lebih lemah di hadapan Xi Jinping dibanding pemerintahan-pemerintahan AS sebelumnya.

Menurut dia, kegagalan strategi Washington dalam konflik Iran menjadi salah satu faktor utama melemahnya pengaruh Amerika terhadap China.

Blumenthal mengutip pandangan analis politik neokonservatif Amerika, Robert Kagan, yang menyebut peristiwa di Iran sebagai kekalahan militer paling buruk dan paling merusak dalam sejarah Amerika Serikat.

Ia menilai dampak konflik tersebut tidak hanya memukul citra militer AS, tetapi juga merusak posisi tawar Washington dalam hubungan internasional, terutama terhadap Beijing.

“Amerika Serikat kini tidak lagi berada dalam posisi untuk menuntut apa pun dari China,” ujar Blumenthal.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik antara Washington dan Beijing dalam bidang perdagangan, teknologi, keamanan kawasan Indo-Pasifik, hingga konflik Timur Tengah.

Blumenthal menilai China kini memiliki keuntungan strategis lebih besar karena melihat melemahnya pengaruh global AS pasca konflik Iran. Kondisi tersebut, menurut dia, membuat Beijing semakin percaya diri dalam menghadapi tekanan dari Washington.

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan AS dan China memang terus memanas akibat perang dagang, pembatasan teknologi, isu Taiwan, serta persaingan pengaruh di berbagai kawasan dunia.

Namun, sejumlah pengamat menilai konflik Iran telah menjadi titik penting yang memperlihatkan keterbatasan kekuatan AS dalam mempertahankan dominasi globalnya.

Pernyataan Blumenthal juga mencerminkan meningkatnya kritik di dalam negeri Amerika terhadap kebijakan luar negeri Washington yang dinilai terlalu banyak terlibat konflik militer tanpa menghasilkan keuntungan strategis yang jelas bagi kepentingan nasional AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *