PROGRES.ID – Krisis kekurangan personel militer di Israel dilaporkan semakin memburuk di tengah perang berkepanjangan di berbagai front sejak pecahnya konflik Gaza pasca Operasi Badai Al-Aqsa. Media Israel menyebut militer negara itu kini menghadapi kekurangan sekitar 15 ribu personel.
Laporan surat kabar Israel Maariv pada Sabtu menyebut meningkatnya kekhawatiran di kalangan internal Israel terkait “krisis kekurangan tentara yang terus membesar”. Tekanan terhadap pasukan cadangan juga disebut meningkat tajam akibat perang yang berlangsung dalam waktu panjang.
Dalam laporan tersebut, model “tentara rakyat” yang selama ini menjadi basis pertahanan Israel dinilai tidak lagi efektif. Kondisi itu dipicu menurunnya minat masyarakat untuk menjalani wajib militer, ditambah belum terselesaikannya polemik perekrutan kelompok Yahudi ultra-Ortodoks atau Haredi ke dalam militer Israel.
Maariv menyebut militer Israel kini mengalami “erosi yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Mengutip estimasi Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Eyal Zamir untuk Mei 2026, laporan itu menyebut terdapat kekurangan sekitar 15 ribu personel militer yang dinilai dapat menciptakan “kekosongan operasional serius” dan mengancam kemampuan militer melanjutkan perang.
Untuk menutup kekurangan tersebut, media Israel itu mengusulkan opsi perekrutan tentara asing dengan imbalan gaji tinggi. Usulan itu disebut mengacu pada pengalaman Ukraina yang merekrut ribuan pejuang asing selama perang melawan Rusia melalui insentif finansial dan bayaran besar.
Menurut laporan tersebut, Israel memiliki cadangan devisa sekitar 236 miliar dolar AS yang dinilai dapat digunakan sebagian untuk membiayai perekrutan personel asing.
Biaya untuk mendatangkan sekitar 15 ribu tentara asing diperkirakan mencapai 2,5 hingga 3 miliar dolar AS per tahun. Dalam skema tersebut, setiap personel asing disebut dapat menerima bayaran hingga 10 ribu dolar AS per bulan.
Laporan itu juga menyebut target perekrutan diperkirakan berasal dari kawasan Eropa Timur, Amerika Latin, hingga Amerika Serikat.
Sejumlah pengamat menilai munculnya wacana perekrutan tentara asing menunjukkan besarnya krisis sumber daya manusia yang dihadapi militer Israel setelah berbulan-bulan terlibat perang berkepanjangan. Selain itu, pasukan cadangan Israel juga disebut mengalami kelelahan serta menghadapi perbedaan pandangan terkait pembagian tanggung jawab perang.












