PROGRES.ID – Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan keberhasilannya menembak jatuh drone milik Israel di wilayah udara Provinsi Fars, Iran selatan, pada Rabu sore waktu setempat.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut pesawat nirawak jenis Hermes 900 milik Israel itu dihancurkan di wilayah Lar menggunakan sistem pertahanan dirgantara terbaru yang terintegrasi dengan jaringan pertahanan udara nasional Iran.
Militer Iran menegaskan drone tersebut berhasil diidentifikasi dan dicegat sebelum menjalankan misinya di wilayah udara Iran.
IRGC juga mengeluarkan peringatan keras kepada Israel dan Amerika Serikat terkait pelanggaran terhadap gencatan senjata sementara yang tengah berlangsung.
Menurut mereka, masuknya pesawat atau drone milik AS maupun Israel ke wilayah udara Iran, meski tanpa operasi militer aktif, tetap akan dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.
“Setiap pelanggaran akan mendapat respons tegas dan menentukan,” tulis IRGC dalam pernyataannya.
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat tajam sejak pecahnya konflik besar pada akhir Februari lalu. Iran menuduh AS dan Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran setelah terbunuhnya Pemimpin Revolusi Islam Iran saat itu, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Sebagai balasan, pasukan Iran meluncurkan serangan terhadap posisi-posisi militer AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Tehran mengklaim serangan balasan tersebut berhasil menimbulkan kerusakan signifikan terhadap aset militer lawan sekaligus memperkuat solidaritas nasional Iran.
Di tengah eskalasi konflik, Pakistan muncul sebagai mediator utama dalam upaya diplomasi kedua pihak. Mediasi tersebut menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan untuk membuka ruang perundingan di Islamabad.
Iran dikabarkan mengajukan proposal 10 poin dalam negosiasi tersebut, termasuk tuntutan penarikan pasukan AS dari kawasan, pencabutan sanksi, hingga pengaturan kendali atas Selat Hormuz.
Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada 8 April lalu menyatakan konflik tersebut telah menghasilkan “kemenangan bersejarah” bagi Iran karena dinilai memaksa Amerika menerima jalur negosiasi.
Meski demikian, Iran menegaskan proses diplomasi bukan berarti konflik telah berakhir. Tehran menyebut perundingan hanya menjadi kelanjutan dari pertarungan melalui jalur politik dan diplomatik, sembari tetap mempertahankan sikap tidak percaya terhadap Washington.












