Drone Hizbullah Kembali Makan Korban, Dua Prajurit Elit Israel Tewas Kena Bom

favicon progres.id
dikejar drone hizbullah
Ilustrasi tentara Israel dikejar drone FPV Hizbullah (Grok)

PROGRES.ID – Militer Israel mengonfirmasi tewasnya dua prajurit dari unit elite dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan yang melibatkan serangan drone peledak milik Hizbullah.

Korban pertama adalah Michael Tioukin, anggota unit pengintai Brigade Givati, yang menurut pengumuman militer Israel tewas pada 31 Mei 2026 setelah menjadi sasaran drone bermuatan bahan peledak yang diluncurkan Hizbullah pada malam sebelumnya.

Sehari kemudian, militer Israel kembali mengumumkan kematian seorang prajurit elite lainnya, Adam Tserfati, anggota unit komando Maglan. Ia dilaporkan tewas dalam operasi di Lebanon selatan setelah dikejar dan diserang drone peledak yang dioperasikan oleh pejuang Hizbullah.

Media Israel melaporkan insiden yang menewaskan Tserfati terjadi sekitar pukul 01.30 dini hari di kawasan Desa Yuhmor, sektor timur Lebanon selatan.

Menurut laporan stasiun televisi Kan, drone Hizbullah meledak dengan kekuatan besar setelah mencapai targetnya. Tim medis militer segera dikerahkan ke lokasi untuk memberikan pertolongan kepada para korban.

Tserfati dinyatakan meninggal di tempat kejadian, sementara tiga tentara lainnya mengalami luka-luka dan dievakuasi menggunakan helikopter menuju Rambam Health Care Campus di Haifa untuk mendapatkan perawatan intensif.

Dalam perkembangan terpisah, sejumlah media Israel juga melaporkan sebuah drone peledak Hezbollah menghantam rumah yang disebut menjadi lokasi keberadaan seorang komandan batalion militer Israel. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan sejumlah korban luka berat, meski identitas korban belum diumumkan secara resmi.

Insiden-insiden terbaru ini memicu kekhawatiran di kalangan militer Israel mengenai peningkatan kemampuan drone Hezbollah. Menurut laporan media setempat, tentara Israel menilai kelompok tersebut mulai mengoperasikan drone peledak yang dilengkapi kamera berkemampuan penglihatan malam, sehingga tetap efektif digunakan dalam operasi pada kondisi gelap.

Kemampuan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan ancaman terhadap pasukan Israel yang beroperasi di Lebanon selatan, terutama saat operasi malam hari dan di wilayah yang sulit dijangkau sistem pertahanan udara konvensional.

Hingga saat ini, militer Israel belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai langkah-langkah yang akan diambil untuk menghadapi ancaman drone yang terus berkembang di medan pertempuran Lebanon selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *