PROGRES.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat tidak hanya berlaku bagi kedua negara, tetapi juga mencakup seluruh front konflik di kawasan, termasuk Lebanon.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi melalui akun X miliknya pada Senin, menyusul meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon dalam beberapa hari terakhir.
“Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat secara tegas berlaku di seluruh front, termasuk Lebanon,” tulis Araghchi.
Menurutnya, setiap pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut di satu wilayah akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap keseluruhan perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati.
Diplomat tertinggi Iran itu juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan Israel harus bertanggung jawab atas konsekuensi yang timbul apabila kesepakatan tersebut dilanggar.
Pernyataan Araghchi muncul di tengah meningkatnya serangan Israel ke sejumlah wilayah di Lebanon. Teheran menilai penghentian seluruh aksi militer di kawasan menjadi syarat penting dalam upaya mencapai nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara Iran dan Washington.
Kesepakatan tersebut diharapkan dapat mengakhiri konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu dan melibatkan Iran, Amerika Serikat, Israel, serta sejumlah wilayah lain di Timur Tengah.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sepihak pada 8 April. Namun, menurut Iran, implementasi kesepakatan tersebut belum berjalan sepenuhnya di lapangan.
Ketegangan kembali meningkat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan ke kawasan Dahiyeh di Beirut pada Senin. Pemerintah Israel menyatakan operasi itu dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Hizbullah.
Netanyahu mengatakan keputusan tersebut diambil bersama Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dengan menginstruksikan militer untuk menyerang sejumlah target yang dianggap terkait aktivitas kelompok bersenjata di Lebanon.
Pada hari yang sama, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, turut melontarkan kritik terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Melalui media sosial, Ghalibaf menilai blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon menjadi bukti bahwa Washington belum menjalankan komitmennya dalam kesepakatan gencatan senjata.
Ia memperingatkan bahwa kebijakan tersebut akan membawa konsekuensi bagi Amerika Serikat dan Israel apabila terus berlanjut.
Pernyataan para pejabat Iran tersebut menandai meningkatnya tekanan diplomatik Teheran terhadap Washington dan Tel Aviv di tengah upaya perundingan yang masih berlangsung untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.










