PROGRES.ID – Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mengalami ketegangan serius setelah keduanya terlibat percakapan yang disebut sebagai salah satu yang paling panas sejak Trump kembali menjabat pada 2024.
Laporan harian Israel Maariv mengungkapkan bahwa diskusi antara kedua pemimpin berlangsung dengan nada tinggi dan diwarnai pertukaran kata-kata keras terkait perkembangan konflik di Timur Tengah.
Mengutip laporan dari sejumlah sumber asing, Maariv menyebut Trump meluapkan kemarahannya kepada Netanyahu selama pembicaraan tersebut. Presiden AS itu dikabarkan menegur pemimpin Israel dengan pernyataan yang sangat tajam.
Menurut laporan tersebut, Trump disebut mengatakan kepada Netanyahu bahwa dirinya telah banyak membantu Israel dan secara pribadi menyelamatkan posisi politik sang perdana menteri.
Sumber yang dikutip media itu juga mengklaim Trump memperingatkan Netanyahu bahwa citra Israel di mata dunia internasional terus memburuk akibat perkembangan konflik yang sedang berlangsung.
Selain itu, sumber lain menyebut Trump berada dalam kondisi sangat marah selama percakapan berlangsung. Bahkan pada satu titik, ia dilaporkan meninggikan suara dan mempertanyakan langkah-langkah yang sedang diambil pemerintah Israel.
Meski isi lengkap pembicaraan tidak dipublikasikan, laporan tersebut memperkuat spekulasi mengenai munculnya perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv terkait penanganan konflik regional, termasuk isu Iran dan Lebanon.
Sejumlah pengamat menilai jika laporan itu akurat, maka ketegangan tersebut dapat menjadi indikasi adanya keretakan dalam koordinasi politik antara dua sekutu utama tersebut, terutama ketika berbagai upaya diplomasi dan gencatan senjata sedang diupayakan di kawasan.
Hingga kini, baik Gedung Putih maupun kantor Perdana Menteri Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengonfirmasi ataupun membantah isi laporan yang dipublikasikan Maariv tersebut.
Namun, kabar mengenai percakapan panas itu langsung menjadi perhatian media dan pengamat politik karena muncul di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap kebijakan militer Israel dan upaya Amerika Serikat untuk mendorong stabilitas di Timur Tengah.












