PROGRES.ID – Laporan terbaru dari media Israel mengungkap bahwa kemungkinan serangan balasan Iran sebenarnya telah diprediksi sebelum militer Israel melancarkan serangan ke kawasan Dahiyeh, Beirut selatan. Namun, meski risiko tersebut sudah dibahas di tingkat keamanan dan politik, operasi tetap dijalankan hingga akhirnya memicu respons dari Teheran.
Harian Israel Hayom melaporkan sejumlah pejabat keamanan mengakui bahwa skenario balasan Iran telah menjadi bagian dari pembahasan sebelum serangan dilakukan di jantung ibu kota Lebanon tersebut.
Menurut para pejabat tersebut, probabilitas respons Iran bahkan dinilai cukup tinggi. Meski demikian, pertimbangan itu tidak mengubah keputusan politik untuk tetap melaksanakan operasi militer di Beirut.
Setelah serangan berlangsung, intelijen militer Israel dilaporkan segera meningkatkan status kewaspadaan terhadap kemungkinan peluncuran rudal dari Iran. Namun laporan itu menyebut kesiapan sistem pertahanan dan mekanisme peringatan publik tidak berlangsung secepat yang diharapkan.
Sumber keamanan yang dikutip Israel Hayom menjelaskan bahwa informasi dan estimasi ancaman sebenarnya telah tersedia sejak awal. Akan tetapi, proses distribusi informasi kepada sejumlah pihak terkait disebut berlangsung lebih lambat dari yang dibutuhkan dalam situasi krisis.
Akibatnya, sebagian besar masyarakat Israel baru menerima peringatan beberapa menit sebelum peluncuran rudal Iran terdeteksi secara langsung.
Laporan tersebut menyebut militer Israel baru mengaktifkan sejumlah sistem kesiapsiagaan dan mengeluarkan peringatan resmi kepada publik setelah mendeteksi peluncur rudal Iran berada dalam posisi siap tembak.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan baru mengenai koordinasi antarlembaga keamanan dan kecepatan pengambilan keputusan dalam menghadapi ancaman yang telah diperkirakan sebelumnya.
Menurut sumber yang sama, beberapa pejabat meyakini masih tersedia waktu yang cukup panjang untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Namun perkiraan tersebut ternyata meleset karena pasukan Iran berada dalam tingkat kesiagaan yang sangat tinggi.
“Begitu peluncur memasuki posisi operasional, waktu yang tersedia untuk merespons hanya tinggal hitungan menit,” demikian isi laporan tersebut.
Temuan itu memicu perdebatan di kalangan pengamat keamanan Israel mengenai efektivitas sistem peringatan dini negara tersebut. Sejumlah pihak mempertanyakan mengapa ancaman yang sudah diprediksi sebelumnya tidak diikuti dengan langkah kesiapsiagaan yang lebih cepat.
Laporan Israel Hayom juga menyoroti bahwa serangan ke Beirut selatan tidak hanya berdampak pada front Lebanon, tetapi turut membuka kemungkinan keterlibatan langsung Iran dalam eskalasi konflik.
Perkembangan tersebut dinilai menunjukkan semakin eratnya keterkaitan antara arena konflik Lebanon dan Iran, sehingga setiap operasi militer besar di salah satu front berpotensi memicu respons di front lainnya.
Hingga kini, otoritas Israel belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan keterlambatan peningkatan kesiapsiagaan maupun proses penyampaian peringatan kepada publik. Namun laporan tersebut menambah tekanan terhadap pemerintah dan lembaga keamanan di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat atas ancaman konflik regional yang semakin meluas.












