PROGRES.ID, TEHERAN – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah sejumlah pejabat Iran melontarkan peringatan keras terkait konflik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ibrahim Azizi, menegaskan bahwa Teheran tidak gentar menghadapi konfrontasi yang lebih luas. Ia juga mengklaim jumlah korban di pihak Amerika Serikat jauh lebih besar dibandingkan angka yang selama ini disampaikan Presiden AS Donald Trump.
“Kami tidak takut melawan pihak yang akan kalah. Jumlah korban Amerika jauh lebih tinggi daripada yang diakui Trump, dan angkanya akan terus bertambah,” kata Azizi dalam pernyataannya.
Azizi juga mengisyaratkan kemungkinan meluasnya konflik ke luar kawasan Timur Tengah apabila ketegangan terus meningkat.
“Kali ini perang tidak hanya terbatas di kawasan. Kita akan melihat apa yang akan terjadi,” ujarnya.
Negara yang Fasilitas AS Serang Iran akan Ditarget
Sementara itu, analis politik Iran Mohammad Marandi dalam wawancaranya dengan media Al Mayadeen menyampaikan peringatan kepada negara-negara tetangga Iran. Menurutnya, setiap negara yang mengizinkan wilayah darat, udara, maupun perairannya digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran dapat dianggap sebagai pihak yang terlibat langsung dalam konflik.
Marandi menegaskan bahwa keterlibatan semacam itu berpotensi memicu respons balasan dari Teheran.
“Penggunaan wilayah, ruang udara, atau perairan negara-negara tetangga untuk melakukan agresi terhadap Iran akan menjadikan mereka sebagai mitra dalam perang dan membuat mereka berisiko menghadapi respons Iran,” katanya.
Pernyataan-pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi antara Iran dan Amerika Serikat, yang dalam beberapa pekan terakhir diwarnai serangkaian serangan rudal, operasi militer, dan saling tuding mengenai dampak konflik yang terus berkembang.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat maupun negara-negara yang disebut secara tidak langsung dalam pernyataan para pejabat Iran tersebut.












