PROGRES.ID, WASHINGTON – Mantan analis Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), Larry Johnson, menilai proses diplomasi antara Iran dan pihak-pihak yang terlibat dalam perundingan sempat menunjukkan perkembangan yang signifikan sebelum akhirnya menghadapi berbagai hambatan.
Dalam pernyataannya, Johnson mengklaim kemajuan yang dicapai selama negosiasi perdamaian tidak mendapat dukungan dari sejumlah pihak, termasuk Israel dan kelompok konservatif garis keras atau neokonservatif di Amerika Serikat.
Menurutnya, pihak-pihak tersebut berupaya menghalangi tercapainya kesepakatan dengan Teheran karena menilai hasil perundingan tidak sejalan dengan kepentingan mereka.
“Telah terjadi banyak kemajuan dalam perundingan perdamaian. Namun hal itu tidak disukai oleh Israel maupun kalangan neokonservatif di Amerika Serikat, sehingga mereka melakukan segala yang mereka bisa untuk menggagalkan negosiasi dengan Iran,” kata Johnson.
Ia menambahkan bahwa kegagalan mempertahankan momentum diplomasi berpotensi memicu babak baru ketegangan di kawasan. Johnson memperkirakan kemungkinan munculnya putaran konfrontasi baru masih terbuka dalam waktu mendatang.
“Kemungkinan besar kita akan menyaksikan putaran konfrontasi berikutnya karena alasan yang sama,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang dalam beberapa waktu terakhir diwarnai aksi militer, serangan balasan, serta saling tuding terkait upaya menjaga stabilitas kawasan.
Meski demikian, pandangan Johnson merupakan analisis pribadi dan belum tentu mencerminkan posisi resmi pemerintah Amerika Serikat maupun lembaga intelijen negara tersebut.
Sejumlah pengamat menilai peluang kembalinya jalur diplomasi masih terbuka, namun keberhasilannya akan sangat bergantung pada kesediaan seluruh pihak untuk menahan eskalasi dan kembali ke meja perundingan.












