Pejabat Keamanan Iran dan UEA Gelar Pertemuan Langsung Pertama Pasca Konflik dengan AS-Israel

favicon progres.id
fujairah meledak
Fasilitas di Pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab meledak hebat usai serangan rudal dan drone (Foto: Telegram)

PROGRES.ID, ABU DHABI – Pejabat tinggi keamanan nasional Iran dan Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan telah mengadakan pertemuan tatap muka untuk pertama kalinya sejak berakhirnya konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Laporan Bloomberg yang terbit Kamis (11/6/2026), mengutip sejumlah sumber yang mengetahui perkembangan tersebut, menyebut pertemuan itu sebagai perubahan signifikan dalam hubungan kedua negara. Langkah tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kesadaran Teheran dan Abu Dhabi akan pentingnya menjaga hubungan bilateral yang lebih stabil.

Hubungan Iran dan UEA sempat memburuk selama konflik berlangsung. Teheran menuduh Abu Dhabi membantu operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran. Sejumlah laporan bahkan menyebut UEA terlibat dalam operasi rahasia yang ditujukan terhadap Iran selama periode tersebut.

Sebagai respons atas serangan yang diterimanya, Iran melancarkan serangan balasan terhadap berbagai aset dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, termasuk target yang berada di wilayah UEA.

Serangan tersebut dilaporkan memberikan dampak terhadap citra Emirat sebagai pusat keuangan regional yang selama ini menjadi tujuan investasi internasional. Perekonomian negara itu juga disebut mengalami tekanan akibat meningkatnya ketegangan keamanan.

Menurut Bloomberg, pendekatan terbaru Abu Dhabi didorong oleh penilaian bahwa peluang perubahan pemerintahan di Iran melalui jalur militer sangat kecil. Karena itu, UEA kini lebih menekankan pentingnya stabilitas kawasan demi melindungi agenda ekonomi jangka panjangnya.

UEA diketahui tengah mengembangkan investasi bernilai miliaran dolar di sektor energi, termasuk produksi minyak dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), yang membutuhkan situasi geopolitik yang lebih kondusif.

Di sisi lain, hubungan UEA dengan Amerika Serikat dan Israel tetap terjalin erat. Pada 2020, UEA menjadi negara Muslim pertama yang menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Kesepakatan Abraham atau Abraham Accords.

Bulan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya melakukan kunjungan rahasia ke Uni Emirat Arab dan bertemu Presiden Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan di tengah berlangsungnya konflik dengan Iran.

Laporan lain dari The Wall Street Journal juga menyebut Kepala Badan Intelijen Mossad Israel, David Barnea, setidaknya dua kali mengunjungi UEA selama konflik berlangsung untuk mengoordinasikan berbagai aktivitas terkait.

Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari ketika kedua negara melancarkan operasi militer terhadap Iran. Menurut Teheran, serangan tersebut memanfaatkan pangkalan militer, personel, dan peralatan Amerika Serikat yang ditempatkan di sejumlah negara Arab Teluk Persia serta Yordania.

Sebagai balasan, militer Iran mengklaim meluncurkan sekitar 100 gelombang serangan terhadap target strategis Amerika Serikat dan Israel di kawasan, sekaligus membatasi lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz.

Empat puluh hari setelah konflik pecah, gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 8 April. Namun, perundingan lanjutan antara Teheran dan Washington tidak menghasilkan kesepakatan, sementara Amerika Serikat menerapkan apa yang disebut Iran sebagai “blokade laut” terhadap negara tersebut.

Sejak saat itu, Iran menuduh Israel dan Amerika Serikat beberapa kali melanggar kesepakatan gencatan senjata. Pelanggaran tersebut disebut memicu serangan balasan baru dari Teheran serta penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *