PROGRES.ID, TEHERAN – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Iran dan rakyatnya keluar sebagai pemenang dalam konflik terbaru di kawasan. Ia menegaskan keberhasilan di medan perang menjadi fondasi utama bagi proses diplomasi dan perundingan yang saat ini masih berlangsung dengan Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya, Araghchi mengatakan pasukan bersenjata Iran bersama rakyatnya telah menghadapi tekanan dan serangan musuh dengan ketahanan yang luar biasa.
Menurutnya, tugas diplomasi adalah mengamankan dan memperkuat capaian yang telah diraih di lapangan. Karena itu, kekuatan negosiasi Iran tidak dapat dipisahkan dari kemampuan militer dan ketahanan nasional yang ditunjukkan selama konflik berlangsung.
“Perundingan pada dasarnya bergantung pada kekuatan di medan. Iran dan rakyat Iran adalah pihak yang menang, dan ini bukan sekadar slogan,” ujarnya.
Araghchi juga mengklaim sejumlah pejabat asing mengakui bahwa Iran justru keluar dari perang dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Lebanon Masuk dalam Kesepahaman
Dalam kesempatan tersebut, Araghchi mengungkapkan bahwa memorandum kesepahaman yang sedang dibahas akan mencakup penghentian perang di seluruh front, termasuk Lebanon.
Ia menegaskan Teheran tidak akan meninggalkan Lebanon dalam situasi apa pun.
Menurut Araghchi, penghentian konflik yang dimaksud juga mencakup penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang masih diduduki. Posisi tersebut, kata dia, telah disampaikan secara terbuka kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proses negosiasi.
“Kami tidak akan pernah meninggalkan Lebanon sendirian,” tegasnya.
Belum Ada Kesepakatan Final
Meski optimisme mengenai tercapainya kesepahaman terus menguat, Araghchi menekankan bahwa hingga saat ini belum ada dokumen final yang ditandatangani.
Ia menolak membeberkan rincian substansi kesepakatan karena khawatir dapat memicu polemik politik dan media yang berpotensi menghambat proses penandatanganan.
Araghchi juga menyatakan bahwa baik Iran maupun Amerika Serikat telah menegaskan tidak ada kredibilitas terhadap berbagai draf atau teks yang beredar di media saat ini.
“Kami lebih memilih membahas detail setelah kesepakatan benar-benar final,” katanya.
Israel Disebut Menentang Kesepakatan
Araghchi menuding terdapat sejumlah pihak yang berupaya menggagalkan proses perdamaian tersebut. Menurutnya, pihak yang paling menentang kesepakatan adalah Israel.
Ia menilai Israel akan terus mencari alasan untuk melemahkan atau menggagalkan proses yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.
Di sisi lain, Araghchi menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan internasional yang memberikan seluruh keuntungan kepada satu pihak tanpa adanya konsesi bagi pihak lain.
Hormuz Jadi Alat Deteren
Menlu Iran juga menyinggung posisi strategis Selat Hormuz yang menurutnya kini menjadi salah satu instrumen penting dalam strategi pencegahan atau deterrence Iran.
Ia menegaskan ancaman terhadap infrastruktur Iran tidak akan memaksa Teheran untuk mundur dari posisinya.
“Jika ancaman terhadap infrastruktur dapat membuat kami menyerah, kami sudah melakukannya sejak lama. Kami telah menyampaikan bahwa ancaman justru akan menghasilkan efek sebaliknya,” ujar Araghchi.
Ia menambahkan bahwa Iran siap menghadapi segala kemungkinan apabila situasi kembali mengarah pada konfrontasi militer.
Waspadai Pelanggaran Tahap Awal
Araghchi menjelaskan bahwa kesepahaman yang sedang dirancang saat ini baru merupakan tahap awal menuju perjanjian yang lebih komprehensif.
Karena itu, pelaksanaan poin-poin tahap pertama akan menjadi syarat utama sebelum kedua pihak melangkah ke fase berikutnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Iran memiliki pengalaman panjang menghadapi pelanggaran komitmen dalam berbagai kesepakatan sebelumnya, sehingga mekanisme pengawasan dan jaminan implementasi menjadi perhatian utama Teheran.
“Kami harus menutup setiap celah yang memungkinkan pihak lain mengingkari komitmennya,” kata Araghchi.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya harapan akan tercapainya kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik regional sekaligus membuka jalan bagi proses diplomatik yang lebih luas antara Iran dan Amerika Serikat.












