PROGRES.ID – Jurnalis dan analis militer Israel, Alon Ben David, melontarkan kritik tajam terhadap hasil putaran konfrontasi terbaru antara Israel dan Iran. Dalam tulisannya yang dimuat harian Ibrani *Maariv*, ia menilai operasi yang semula digambarkan sebagai kekuatan ofensif Israel justru berakhir tanpa pencapaian signifikan.
Menurut Ben David, ketika gelombang pertempuran terbaru melawan Iran dimulai pekan ini, militer Israel menyebutnya sebagai “hari ke-42 Operasi Roar of the Lion” atau “Auman Singa”. Namun, hanya berselang 16 jam kemudian, ia menilai situasi tersebut lebih tepat digambarkan sebagai “raungan singa”.
Ben David berpendapat bahwa Israel tidak hanya gagal meraih hasil strategis dalam putaran konflik tersebut, tetapi juga menghadapi apa yang disebutnya sebagai persamaan deterrence atau daya tangkal baru yang berhasil dipaksakan Iran.
Dalam analisanya, ia menyebut selama 16 jam pertempuran, Israel hanya mampu menghancurkan sekitar 12 target di wilayah Iran. Sementara itu, rencana utama yang mencakup serangan terhadap infrastruktur nasional dan platform peluncuran rudal Iran disebut tidak sempat dijalankan secara penuh.
“Israel tidak memiliki waktu yang cukup untuk melaksanakan rencana serangan utamanya terhadap infrastruktur nasional dan peluncur rudal di Iran,” tulis Ben David.
Ia juga menilai pemerintah dan militer Israel tidak memanfaatkan momentum eskalasi tersebut untuk membentuk aturan main atau persamaan strategis yang menguntungkan pihaknya.
Pernyataan Ben David muncul di tengah meningkatnya perdebatan di Israel mengenai efektivitas operasi militer terhadap Iran dan dampaknya terhadap keseimbangan kekuatan di kawasan. Analisis tersebut sekaligus mencerminkan adanya suara-suara kritis di dalam negeri Israel terkait hasil konfrontasi terbaru dengan Teheran.












