PROGRES.ID – Cadangan minyak darurat Amerika Serikat kini berada di level terendah dalam lebih dari empat dekade setelah Washington terus menguras stok energi strategisnya untuk meredam gejolak ekonomi yang dipicu konflik dengan Iran.
Data federal terbaru yang dirilis pada Senin menunjukkan bahwa Strategic Petroleum Reserve (SPR) atau Cadangan Minyak Strategis AS menyusut menjadi 340,3 juta barel. Angka tersebut merupakan level terendah sejak 1983, ketika pemerintahan Presiden Ronald Reagan masih dalam tahap awal mengisi fasilitas penyimpanan minyak darurat nasional tersebut.
Cadangan yang dibentuk pada 1975 pasca-krisis energi akibat embargo minyak global itu sejatinya memiliki kapasitas hingga 714 juta barel. Namun kini, volumenya telah berada di bawah 50 persen dari kapasitas maksimum.
Penurunan drastis ini mencerminkan semakin besarnya ketergantungan Washington terhadap cadangan darurat untuk menghadapi dampak ekonomi dari berbagai krisis geopolitik dalam beberapa tahun terakhir.
Setelah melepaskan 180 juta barel minyak ke pasar pada 2022 menyusul perang di Ukraina, pemerintahan Presiden Donald Trump kembali mengumumkan pelepasan 172 juta barel tambahan pada Maret lalu. Langkah tersebut dilakukan selama periode 120 hari guna menekan lonjakan harga energi yang dipicu konflik dengan Iran.
Data pemerintah menunjukkan hampir sembilan juta barel ditarik hanya dalam sepekan terakhir. Secara keseluruhan, cadangan strategis AS telah berkurang sekitar 75 juta barel atau 18 persen sejak dimulainya operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Kekhawatiran Meningkat di Kalangan Analis
Menyusutnya stok minyak darurat mulai memicu kekhawatiran di kalangan pengamat energi. Banyak pihak mempertanyakan keberlanjutan kebijakan tersebut, terutama karena cadangan yang seharusnya menjadi “benteng terakhir” menghadapi krisis kini terus terkikis.
Ironisnya, Donald Trump saat kampanye presiden tahun 2022 pernah mengkritik pendahulunya, Joe Biden, karena menggunakan cadangan strategis untuk menstabilkan harga energi. Kini, pemerintahannya justru melakukan penarikan cadangan dalam jumlah yang lebih besar dan dalam tempo yang lebih cepat.
“Kami mulai membunyikan alarm. Saat ini kami memasuki level yang mulai menimbulkan kekhawatiran serius,” kata Mike Sommers, Kepala Eksekutif American Petroleum Reserve.
Para analis memperingatkan bahwa cadangan yang semakin tipis dapat membuat Amerika Serikat rentan terhadap gangguan pasokan energi di masa depan, terutama saat memasuki puncak musim badai di kawasan Teluk Meksiko yang menjadi pusat produksi minyak dan gas negara tersebut.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai pelepasan cadangan strategis sejauh ini memang berhasil mencegah lonjakan harga minyak yang lebih ekstrem.
Menurutnya, kombinasi pelepasan cadangan oleh Amerika Serikat, beberapa negara lain, serta berkurangnya ekspor minyak dari China telah membantu menahan harga minyak dunia agar tidak menembus level yang sangat tinggi.
Namun, ia mengingatkan bahwa ruang gerak pemerintah semakin terbatas apabila terjadi gangguan produksi dalam skala besar.
“Jika badai besar melanda Teluk Meksiko dan menghentikan produksi selama beberapa minggu, bantalan pengaman yang selama ini tersedia mungkin tidak lagi cukup,” ujarnya.
Selat Hormuz Jadi Faktor Penentu
Ketegangan di Timur Tengah turut memperbesar tekanan terhadap pasar energi global. Sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel, Iran melancarkan lebih dari 100 gelombang operasi balasan terhadap berbagai aset militer kedua negara di kawasan.
Di saat yang sama, Teheran juga mengambil langkah strategis dengan membatasi lalu lintas kapal yang dianggap bermusuhan di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Gangguan terhadap salah satu urat nadi energi global tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai keamanan pasokan energi internasional.
Dengan cadangan strategis yang terus menyusut dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, para pelaku pasar kini mencermati apakah Amerika Serikat masih memiliki cukup ruang untuk menghadapi guncangan energi berikutnya tanpa mengorbankan keamanan pasokan jangka panjang.












