Cerita Pilot Iran Ungkap Misi Rahasia Serang Pangkalan AS di Kuwait: Terbang 50 Kaki di Atas Tanah hingga Lolos dari Radar

Penulis: Tim Progres.id
Editor: Mukhtar Amin
jet tempur iran
Jet tempur F-5 yang dioperasikan Iran mampu menembus pertahanan AS dan menyerang pangkalan AS di Kuwait (Foto: PressTV)

PROGRES.ID – Personel Angkatan Udara Iran mengungkap detail sebuah operasi militer berisiko tinggi yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait pada awal Maret lalu, saat ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mencapai puncaknya.

Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan televisi nasional Iran pada Rabu (18/6), komandan operasi bersama dua awak pesawat tempur yang terlibat membeberkan bagaimana misi tersebut dijalankan. Mereka menggambarkan operasi itu sebagai serangan presisi yang direncanakan secara matang, dilakukan pada ketinggian sangat rendah, dan diselesaikan hanya dalam waktu sekitar 50 menit.

Target utama serangan adalah Camp Buehring, salah satu pangkalan militer AS terbesar di Kuwait yang disebut memiliki konsentrasi pasukan dan fasilitas strategis dalam jumlah besar.

Komandan misi mengatakan operasi tersebut diluncurkan sebagai respons langsung atas serangan yang ditujukan kepada Iran.

“Kami ingin segera memberikan balasan,” ujarnya.

Terbang Nyaris Menyentuh Tanah

Menurut pengakuan para pilot, formasi serangan terdiri dari tiga penerbang yang mengoperasikan dua jet tempur. Untuk menghindari deteksi radar, mereka terbang pada ketinggian yang jauh di bawah standar operasional normal.

“Kami benar-benar terbang sangat rendah, nyaris menyentuh permukaan tanah. Bahkan beberapa kali kami melintas di bawah kabel listrik,” kata sang komandan.

Ia menjelaskan bahwa dalam latihan biasa, pilot umumnya terbang pada ketinggian sekitar 500 kaki. Namun dalam operasi tersebut, mereka terbang di bawah 50 kaki dari permukaan.

Penerbangan juga dilakukan dalam keheningan radio total meskipun harus menembus sistem pertahanan berlapis yang disebut mencakup rudal Patriot, pesawat pengintai AWACS, hingga jet tempur yang disiagakan untuk melakukan intersepsi.

Melintas di Bawah Kapal

Salah satu momen paling menegangkan terjadi saat formasi pesawat melintasi wilayah laut menuju target.

Komandan operasi mengklaim pesawat mereka terbang begitu rendah hingga berada di bawah dek dua kapal yang mereka lewati.

“Kami melintas di antara dua kapal. Posisi kami bahkan lebih rendah dari dek kapal tersebut. Para awak kapal sampai harus menunduk ke pagar pembatas untuk melihat kami lewat,” ungkapnya.

### Bom Dijatuhkan Tepat di Atas Target

Setelah memasuki wilayah udara Kuwait, formasi pesawat meningkatkan kecepatan menuju Camp Buehring.

Karena menggunakan bom jatuh bebas, para pilot harus terbang tepat di atas sasaran sebelum melepaskan muatan mereka.

“Kami harus berada persis di atas target. Begitu mencapai pangkalan, kami melancarkan pengeboman besar-besaran,” kata komandan misi.

Ia mengklaim ledakan yang terjadi menimbulkan kerusakan luas di area pangkalan. Beberapa helikopter yang berada di lokasi disebut ikut terdampak dan terangkat ke udara akibat dahsyatnya ledakan.

### Tiga Jet Tempur Disebut Jatuh karena Salah Tembak

Dalam kesaksian yang disampaikan, komandan operasi juga mengungkap bahwa situasi di lapangan menjadi kacau ketika sistem pertahanan udara dan pesawat tempur lawan berusaha merespons serangan tersebut.

Ia mengeklaim tiga jet tempur F-15 milik pihak lawan justru hancur akibat insiden salah identifikasi saat proses intersepsi berlangsung.

Laporan tersebut merujuk pada peristiwa 1 Maret lalu ketika Kuwait dilaporkan secara tidak sengaja menembak jatuh tiga pesawat tempur menggunakan sistem rudal Patriot buatan Amerika Serikat.

Manuver Tipuan untuk Menghindari Intersepsi

Usai menyelesaikan serangan, para pilot menjalankan manuver pengelabuan guna menghindari pengejaran.

“Setelah pengeboman kami melakukan manuver tipuan. Mereka tidak mampu melacak maupun mencegat kami,” ujar komandan tersebut.

Seluruh pesawat kemudian berhasil kembali memasuki wilayah udara Iran sebelum mendarat di pangkalan yang telah ditentukan.

Salah satu pilot yang duduk di kursi belakang pesawat mengatakan ledakan masih terus terlihat selama perjalanan pulang. Ia menambahkan bahwa kawasan target dipenuhi berbagai perlengkapan dan kendaraan militer.

Sementara itu, pilot lainnya menegaskan bahwa keberhasilan misi menjadi prioritas utama, apa pun risikonya.

“Bahkan jika satu pesawat hilang, pesawat lainnya tetap harus melanjutkan operasi. Dalam kondisi apa pun, misi harus berhasil,” tegasnya.

“Iran Adalah Prioritas Kami”

Menutup wawancara tersebut, komandan operasi kembali menegaskan bahwa seluruh awak telah menyadari risiko besar yang mereka hadapi sejak awal.

“Dalam misi seperti ini, keselamatan pribadi adalah prioritas terakhir. Dua kata yang menjadi prioritas pertama dan terakhir kami adalah Iran dan bangsa Iran,” ujarnya.

Sebagai informasi, Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari. Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi serangkaian serangan balasan yang intens dari Teheran terhadap berbagai target strategis Amerika Serikat dan Israel di kawasan.

Pada 7 April, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata setelah Iran melancarkan lebih dari 100 gelombang serangan balasan terhadap sejumlah sasaran yang dianggap sensitif dan strategis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *