PROGRES.ID, TEHERAN — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menangkap sebuah drone kapal selam milik Amerika Serikat di dekat pintu masuk Selat Hormuz.
Klaim tersebut disampaikan Angkatan Laut Garda Revolusi pada Selasa dan diberitakan media pemerintah Iran. Jika benar, insiden itu menjadi salah satu contoh langka yang memperlihatkan bagaimana kendaraan bawah laut tanpa awak digunakan dalam operasi militer di kawasan yang tengah mengalami ketegangan tinggi.
Media Iran mengidentifikasi kendaraan yang ditangkap sebagai Dive-LD, sebuah kendaraan bawah laut otonom atau autonomous underwater vehicle (AUV) yang dikembangkan perusahaan pertahanan Amerika Serikat, Anduril.
Dalam pernyataannya, Angkatan Laut Garda Revolusi menyebut kendaraan tersebut sebagai salah satu kapal selam tanpa awak paling modern yang digunakan militer Amerika.
“Kami menjebak salah satu kapal selam tanpa awak paling modern dan cerdas milik tentara Amerika di pintu masuk Selat Hormuz.”
Garda Revolusi juga menyatakan kendaraan itu dilengkapi teknologi canggih. Namun, tidak dijelaskan secara rinci bagaimana kendaraan tersebut bisa dikuasai atau apakah Iran berhasil memperoleh data dari sistem di dalamnya.
Pentagon: Drone Mengalami Kerusakan
Versi Iran tersebut mendapat bantahan sebagian dari Pentagon. Seorang juru bicara Departemen Pertahanan AS mengatakan sebuah drone bawah laut memang mengalami kerusakan lebih dari sehari sebelum pernyataan Iran muncul.
Menurut Pentagon, kendaraan tersebut sedang digunakan untuk memantau perairan kawasan sebagai bagian dari operasi yang sedang berlangsung.
Namun, Pentagon menyebut drone yang mengalami gangguan itu merupakan model lama. Washington juga menegaskan kendaraan tersebut tidak mengumpulkan data sensitif dan tidak membawa perangkat sonar maupun radar yang tergolong rahasia.
Dengan demikian, Pentagon tidak secara langsung mengonfirmasi bahwa kendaraan yang mengalami kerusakan tersebut adalah Dive-LD yang disebut Iran telah ditangkap.
Hingga kini, klaim Iran mengenai penangkapan drone tersebut juga belum dapat diverifikasi secara independen.
Anduril, perusahaan yang mengembangkan Dive-LD, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Dive-LD untuk Operasi Bawah Laut
Dive-LD merupakan salah satu sistem bawah laut tanpa awak yang dikembangkan untuk menjalankan berbagai misi tanpa menempatkan personel di dalam kendaraan.
Menurut informasi dari Anduril, kendaraan tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, antara lain pencarian dan penanganan ranjau laut, pemetaan dasar laut, pengumpulan informasi intelijen, hingga pemeriksaan infrastruktur bawah laut seperti kabel dan jaringan pipa.
Kendaraan sepanjang sekitar 5,8 meter itu dirancang untuk beroperasi dalam waktu lama tanpa harus kembali ke pangkalan.
Anduril menyebut Dive-LD mampu menjalankan misi hingga sekitar 10 hari dan dapat menyelam hingga kedalaman sekitar 6.000 meter.
Laporan DefenseScoop pada 2024 menyebut harga satu unit Dive-LD berada di kisaran US$2,5 juta atau berkisar 43,92 miliar rupiah.
AS Perluas Penggunaan Sistem Tanpa Awak
Penggunaan kendaraan bawah laut tanpa awak menjadi bagian dari upaya militer Amerika Serikat untuk memperluas kemampuan pengawasan di laut dengan biaya yang relatif lebih rendah dan tanpa mempertaruhkan keselamatan awak kapal.
Washington dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan investasi pada berbagai sistem maritim tanpa awak, termasuk kendaraan permukaan dan bawah laut.
Sistem tersebut dapat digunakan untuk mengawasi wilayah laut yang luas, mengumpulkan informasi, serta membantu mendeteksi dan melacak kapal maupun kapal selam lawan.
Perkembangan ini menjadi semakin penting di kawasan seperti Teluk Persia dan Selat Hormuz, yang memiliki nilai strategis tinggi bagi keamanan maritim dan perdagangan energi dunia.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Ketegangan militer di kawasan tersebut membuat aktivitas kapal perang maupun sistem pengawasan bawah laut menjadi sorotan.
Meski Iran menyatakan telah menangkap kendaraan bawah laut Amerika, belum ada bukti independen yang tersedia untuk memastikan bagaimana insiden itu terjadi, jenis kendaraan yang sebenarnya terlibat, maupun apakah Iran berhasil memperoleh informasi sensitif dari sistem tersebut.
Perbedaan keterangan antara Teheran dan Pentagon membuat detail insiden masih belum sepenuhnya jelas.

Komentar