PROGRES.ID, RAMALLAH — Gerakan Inisiatif Nasional Palestina menyambut keputusan 12 negara, termasuk Inggris, Prancis, dan Kanada, untuk memboikot produk yang berasal dari permukiman Israel di wilayah pendudukan.
Kelompok Palestina tersebut menilai kebijakan itu sebagai tanda semakin meluasnya tekanan internasional terhadap Israel, khususnya terkait pembangunan permukiman dan kebijakan di wilayah pendudukan.
Dalam pernyataannya, Inisiatif Nasional Palestina mengatakan boikot terhadap produk permukiman Israel merupakan langkah positif. Namun, mereka menilai kebijakan tersebut belum cukup untuk memberikan tekanan yang signifikan terhadap pemerintah Israel.
Kelompok itu menyerukan agar langkah ekonomi tersebut diperluas menjadi sanksi menyeluruh terhadap pemerintah Israel.
Menurut mereka, pembatasan terhadap produk permukiman serta sanksi yang hanya menyasar sejumlah pemukim dan menteri Israel tidak akan memadai untuk menghentikan kebijakan yang dinilai mendorong perluasan permukiman dan meningkatkan ketegangan di Tepi Barat.
Desak Eropa Putus Kerja Sama dengan Israel
Inisiatif Nasional Palestina secara khusus meminta negara-negara Eropa mengambil langkah lebih jauh dengan meninjau ulang hubungan resmi mereka dengan Israel.
Mereka menyerukan pembatalan berbagai perjanjian kemitraan dan kerja sama di bidang perdagangan maupun ilmu pengetahuan dengan Israel.
Selain itu, negara-negara Eropa diminta menjatuhkan langkah-langkah hukuman terhadap pemerintah Israel sebagai bentuk tekanan atas kebijakan yang berlangsung di wilayah Palestina.
Seruan tersebut muncul di tengah meningkatnya sorotan internasional terhadap aktivitas permukiman Israel dan kekerasan di Tepi Barat.
Bagi kelompok tersebut, tekanan ekonomi dan diplomatik tidak seharusnya hanya diarahkan kepada individu tertentu. Mereka menginginkan kebijakan yang menyasar pemerintah Israel secara lebih luas.
Negara Arab dan Muslim Diminta Hentikan Normalisasi
Desakan serupa juga diarahkan kepada negara-negara Arab dan mayoritas Muslim.
Inisiatif Nasional Palestina meminta negara-negara tersebut memberlakukan sanksi terhadap pemerintah Israel sekaligus menghentikan berbagai bentuk normalisasi hubungan dengan Israel.
Kelompok itu mengaitkan tuntutan tersebut dengan meningkatnya pembangunan permukiman serta serangkaian serangan dan kekerasan di Tepi Barat.
Mereka menilai negara-negara Arab dan Muslim memiliki posisi strategis untuk menggunakan hubungan ekonomi dan diplomatik sebagai alat tekanan agar Israel menghentikan kebijakan yang dipersoalkan Palestina.
Kritik terhadap Sikap Washington
Selain menyambut keputusan 12 negara, Inisiatif Nasional Palestina juga mengecam sikap pejabat Amerika Serikat yang mereka nilai mendukung kebijakan Israel.
Kelompok tersebut menyatakan keberatan terhadap posisi Menteri Luar Negeri AS dan konsul Amerika yang disebut mendukung kebijakan Israel serta pembangunan permukiman, sekaligus menentang langkah-langkah boikot.
Menurut mereka, sikap Washington tersebut bertolak belakang dengan meningkatnya tekanan dari sejumlah negara Barat terhadap produk yang berasal dari permukiman Israel.
Keputusan Inggris, Prancis, Kanada dan negara lainnya untuk mengambil langkah terhadap produk permukiman dipandang sebagai bagian dari perubahan sikap internasional terhadap isu tersebut.
Inisiatif Nasional Palestina pun menyerukan agar langkah tersebut tidak berhenti pada boikot produk. Mereka menginginkan tekanan diperluas melalui sanksi ekonomi, diplomatik, perdagangan dan kerja sama internasional terhadap pemerintah Israel.
Kelompok itu menegaskan bahwa semakin luasnya langkah pembatasan terhadap produk permukiman menunjukkan meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel, tetapi menurut mereka, diperlukan kebijakan yang lebih komprehensif untuk menghasilkan perubahan.

Komentar