PROGRES.ID, WASHINGTON – Perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran dinilai telah memperlihatkan sejumlah kelemahan dalam kemampuan Washington memproyeksikan kekuatan militernya secara global. Serangan Iran terhadap fasilitas militer AS, gangguan jalur logistik, hingga tekanan terhadap persediaan rudal menjadi sejumlah faktor yang disoroti dalam analisis terbaru The Atlantic.

Dalam artikel yang diterbitkan pada 16 September 2026, penulis The Atlantic, Phillips Payson O’Brien, bahkan menyebut bahwa era dominasi global Amerika yang terbentuk setelah Perang Dunia II telah berakhir. Penilaian tersebut didasarkan pada kondisi perang dengan Iran dan berbagai tekanan yang dihadapi militer AS selama konflik berlangsung.

Namun, kesimpulan tersebut merupakan analisis dan penilaian editorial The Atlantic, bukan pernyataan resmi pemerintah AS mengenai posisi global atau kemampuan militernya.

Serangan Iran Ganggu Fasilitas Militer AS

Salah satu persoalan utama yang diangkat adalah dampak serangan rudal dan drone Iran terhadap fasilitas Amerika di kawasan Timur Tengah.

Menurut The Atlantic, sedikitnya 17 instalasi militer, fasilitas pertahanan udara, dan fasilitas diplomatik AS telah terkena serangan dalam waktu kurang dari dua pekan sejak perang dimulai. Di antara lokasi yang terdampak adalah markas Armada Kelima AS di Bahrain serta sejumlah fasilitas militer di Kuwait.

Kondisi tersebut dinilai penting karena kawasan Teluk Persia merupakan salah satu wilayah strategis bagi kehadiran militer Amerika.

Sejak penerapan Carter Doctrine pada 1980, Washington menempatkan keamanan kawasan Teluk Persia sebagai bagian penting dari kepentingan strategisnya, termasuk kelancaran arus energi dan keamanan Selat Hormuz.

Dalam analisisnya, The Atlantic menilai bahwa perang dengan Iran menunjukkan bahwa keberadaan pangkalan militer dalam jumlah besar tidak otomatis menjamin kemampuan AS untuk beroperasi tanpa gangguan.

Pangkalan Bahrain Jadi Titik Masalah Logistik

Dampak paling signifikan disebut terjadi setelah fasilitas militer AS di Bahrain tidak dapat digunakan secara normal.

Bahrain selama puluhan tahun menjadi salah satu pusat penting bagi operasi Angkatan Laut AS di kawasan. Fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung kapal-kapal Amerika yang beroperasi di sekitar Teluk Persia.

Ketika fasilitas itu terganggu, jalur logistik AS harus diperpanjang hingga Diego Garcia, pangkalan Inggris di Samudra Hindia yang berjarak lebih dari 2.000 mil dari Selat Hormuz.

The Atlantic menilai perubahan tersebut memperlihatkan betapa bergantungnya operasi militer AS terhadap jaringan pangkalan dan jalur logistik yang tersebar di berbagai negara.

Sejumlah fasilitas yang terdampak juga belum sepenuhnya kembali beroperasi karena ancaman terhadap personel dan peralatan militer masih menjadi pertimbangan.

Persediaan Rudal AS Ikut Tertekan

Tekanan tidak hanya muncul dari kerusakan fasilitas. Konflik juga memberikan beban terhadap persediaan amunisi Amerika.

Analisis yang dikutip The Atlantic menyebut stok sejumlah sistem pencegat dan rudal penting, termasuk THAAD, Patriot serta rudal jelajah Tomahawk, mengalami penurunan signifikan selama konflik.

Masalahnya, kemampuan produksi tidak selalu dapat mengimbangi penggunaan dalam jumlah besar dalam waktu singkat.

Jika laju produksi tidak meningkat, pengisian kembali sejumlah persediaan senjata AS ke tingkat sebelum perang dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun, menurut analisis tersebut.

Situasi ini memperlihatkan salah satu tantangan perang modern: teknologi persenjataan yang sangat maju tetap membutuhkan kapasitas produksi, cadangan amunisi, serta sistem logistik yang mampu menopang konflik berkepanjangan.

Dampak Perang Iran Meluas ke Kawasan Indo-Pasifik

Menurut The Atlantic, tekanan terhadap militer AS tidak berhenti di Timur Tengah.

Untuk mempertahankan operasi menghadapi Iran, Washington disebut harus mengalihkan sejumlah aset militer yang sebelumnya berada di kawasan Pasifik Barat.

Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi cara AS membagi sumber daya militernya di berbagai kawasan strategis, termasuk Indo-Pasifik yang selama ini menjadi fokus utama dalam menghadapi perubahan keseimbangan kekuatan global.

Dengan kata lain, konflik di Timur Tengah dapat menciptakan konsekuensi strategis di wilayah yang secara geografis jauh dari medan perang.

Kapasitas Industri Pertahanan AS Jadi Sorotan

The Atlantic juga menghubungkan persoalan militer dengan kemampuan industri Amerika.

Saat Perang Dunia II, AS mampu meningkatkan produksi persenjataan secara besar-besaran dengan mengalihkan berbagai sektor industri sipil untuk memenuhi kebutuhan perang.

Situasinya berbeda saat ini. Industri Amerika menghadapi persaingan manufaktur global, terutama dari China.

Dalam analisis yang dipublikasikan The Atlantic, China disebut menguasai sekitar setengah produksi kapal dunia dan sekitar 80 persen manufaktur drone global. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi kemampuan AS mempertahankan keunggulan dalam perang yang membutuhkan produksi massal dan berkelanjutan.

Hubungan dengan Sekutu Juga Mengalami Perubahan

Faktor lain yang dibahas adalah hubungan Washington dengan negara-negara sekutunya.

The Atlantic menilai sejumlah negara mulai mempertimbangkan peningkatan kemampuan pertahanan secara lebih mandiri. Jepang dan Korea Selatan, misalnya, memiliki kapasitas industri galangan kapal yang besar, sementara sejumlah negara Eropa mulai membicarakan peningkatan tanggung jawab mereka sendiri terhadap keamanan kawasan.

Analisis itu juga menyoroti rencana penarikan sekitar 5.000 personel militer AS dari Jerman serta kemungkinan perubahan lebih luas dalam postur pertahanan Amerika di Eropa.

Pada saat yang sama, sejumlah negara di Timur Tengah dan Asia disebut mulai memperluas hubungan pertahanan dan diplomatik di luar ketergantungan tradisional terhadap Washington.

Apa arti perang Iran bagi masa depan kekuatan AS?

Perang Iran, menurut The Atlantic, menjadi ujian besar terhadap model proyeksi kekuatan Amerika yang dibangun selama lebih dari delapan dekade.

AS masih memiliki kemampuan militer, jaringan pangkalan, teknologi, dan sumber daya yang sangat besar. Namun, analisis tersebut mempertanyakan apakah keunggulan tersebut masih dapat diterjemahkan menjadi dominasi global seperti pada periode sebelumnya.

Persoalannya bukan hanya mengenai jumlah kapal perang, pesawat tempur atau rudal, tetapi juga menyangkut kemampuan mempertahankan pasokan senjata, menjaga jalur logistik, melindungi pangkalan, mempertahankan aliansi dan meningkatkan produksi dalam situasi perang berkepanjangan.

Karena itu, The Atlantic menyimpulkan bahwa perang dengan Iran telah memperlihatkan sejumlah batas struktural kekuatan Amerika. Masa depan pengaruh AS di dunia, menurut analisis tersebut, akan sangat bergantung pada kemampuan Washington merespons kelemahan yang muncul dari konflik tersebut.