PROGRES.ID – Langit September 2026 masih menyimpan sejumlah fenomena astronomi menarik yang bisa diamati dari Indonesia. Setelah fenomena okultasi Venus pada 14 September, beberapa peristiwa langit lainnya akan menghiasi sisa bulan ini.

Bagi penggemar astronomi dan astrophotography, kalender fenomena langit September 2026 cukup menarik untuk dicatat. Beberapa di antaranya adalah puncak kecemerlangan Venus, ekuinoks September, Bulan Purnama Harvest Moon, hingga hujan meteor Sextantid.

Berikut jadwal fenomena langit yang dapat diamati hingga penghujung September 2026 yang dinukil dari Detikcom.

18 September 2026: Venus Mencapai Kecemerlangan Maksimum

Venus akan mencapai fase greatest brilliancy atau kecemerlangan maksimum pada 18 September 2026.

Planet yang dikenal sebagai salah satu objek paling terang di langit setelah Matahari dan Bulan tersebut diperkirakan mencapai magnitudo visual sekitar -4,8.

Dengan tingkat kecerlangan tersebut, Venus akan relatif mudah dikenali. Pengamat dapat mencarinya di langit barat ketika senja atau di langit timur menjelang matahari terbit, termasuk di wilayah yang memiliki polusi cahaya cukup tinggi.

Fenomena ini menjadi salah satu kesempatan menarik bagi penggemar fotografi langit untuk mengabadikan Venus dengan latar langit senja maupun fajar.

23 September 2026: Ekuinoks September

Fenomena berikutnya terjadi pada 23 September 2026, ketika Bumi memasuki momen ekuinoks September.

Ekuinoks terjadi ketika Matahari berada tepat di sekitar garis khatulistiwa langit dalam pergerakan semu tahunannya. Kondisi tersebut membuat panjang siang dan malam di berbagai wilayah Bumi menjadi relatif seimbang.

Ekuinoks September juga menandai pergantian musim. Di Belahan Bumi Utara, peristiwa ini menjadi penanda dimulainya musim gugur, sedangkan di Belahan Bumi Selatan menandai awal musim semi.

26 September 2026: Harvest Moon Menghiasi Langit

Salah satu fenomena yang paling dinantikan pada September 2026 adalah Bulan Purnama Harvest Moon.

Bulan purnama tersebut mencapai puncaknya pada 26 September 2026 pukul 23.48 WIB. Istilah Harvest Moon secara tradisional digunakan untuk menyebut Bulan Purnama yang waktunya berdekatan dengan ekuinoks September.

Pada malam purnama, Bulan akan tampak sangat terang dan dapat diamati tanpa teleskop. Pengamatan dapat dilakukan dari berbagai wilayah Indonesia selama kondisi cuaca mendukung dan langit tidak tertutup awan.

Meski kerap disebut tampak lebih besar, kesan tersebut tidak selalu berarti ukuran fisik Bulan benar-benar berubah secara signifikan. Ukuran tampak Bulan dapat dipengaruhi oleh kondisi dan posisi Bulan ketika terbit maupun efek persepsi saat berada dekat cakrawala.

27 September 2026: Puncak Hujan Meteor Sextantid

Rangkaian fenomena langit September 2026 kemudian berlanjut dengan puncak aktivitas hujan meteor Sextantid pada 27 September.

Sextantid merupakan hujan meteor yang titik radiannya berada di sekitar konstelasi Sextans. Fenomena ini memiliki karakteristik berbeda dari sejumlah hujan meteor populer karena sebagian besar aktivitasnya berlangsung pada siang hari.

Periode aktivitas Sextantid berlangsung sekitar 9 September hingga 9 Oktober. Untuk pengamatan dari Bumi, waktu menjelang fajar menjadi periode yang lebih memungkinkan untuk melihat meteor yang muncul sebelum Matahari terbit.

Dalam kondisi pengamatan yang mendukung, intensitasnya diperkirakan berada di kisaran lima meteor per jam.

Fenomena Langit yang Sudah Terjadi pada September 2026

Sejumlah fenomena astronomi juga telah berlangsung pada paruh pertama September.

Pada 1 September, hujan meteor Aurigid mencapai puncak aktivitas dengan perkiraan hingga enam meteor per jam dalam kondisi ideal.

Selanjutnya, pada 6-7 September terjadi pertemuan visual antara Bulan sabit tua dan Mars di sekitar wilayah konstelasi Gemini. Puncak kedekatan tersebut berlangsung pada 7 September sekitar pukul 01.24 WIB.

Hujan meteor Epsilon Perseid kemudian mencapai aktivitas puncak pada 9 September. Fenomena tersebut aktif sepanjang 5-21 September dan lebih baik dicari di arah timur laut menjelang fajar.

Pada 11 September, Bulan memasuki fase Bulan Baru pada pukul 10.27 WIB. Minimnya cahaya Bulan pada malam hari membuat kondisi langit lebih mendukung untuk mengamati objek langit redup, seperti galaksi dan nebula, terutama dari lokasi yang jauh dari polusi cahaya.

Sementara itu, pada 13-14 September, bulan sabit muda terlihat berdekatan secara visual dengan Venus di langit barat sesaat setelah Matahari terbenam.

Dengan demikian, masih ada beberapa kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menikmati fenomena langit sepanjang sisa September 2026, terutama kecemerlangan Venus, ekuinoks, Harvest Moon, dan hujan meteor Sextantid.