PROGRES.ID, TEHERAN – Iran menegaskan masih memegang kendali atas situasi di Selat Hormuz, menyusul pernyataan Amerika Serikat (AS) yang mengklaim telah mengawal arus pengiriman minyak dalam jumlah besar melalui jalur strategis tersebut.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, membantah klaim terbaru yang disampaikan Komando Pusat AS atau US Central Command (CENTCOM) mengenai aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Shekarchi menyebut klaim tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Ia menilai pernyataan itu lebih berkaitan dengan upaya perang psikologis dibandingkan gambaran faktual mengenai situasi di jalur pelayaran strategis tersebut.
Iran Bantah Klaim CENTCOM
Shekarchi mengatakan klaim komandan CENTCOM mengenai pengawalan lebih dari 1 miliar barel minyak melewati Selat Hormuz selama dua bulan terakhir merupakan informasi yang keliru.
Menurutnya, pernyataan tersebut tidak akan mengubah posisi Iran terkait Selat Hormuz.
Ia juga menilai klaim Washington bertujuan meningkatkan moral personel militer AS yang berada di kawasan sekaligus memberikan pembenaran atas biaya finansial dan sumber daya manusia yang dikeluarkan Amerika Serikat.
Shekarchi menegaskan bahwa Iran tetap mempertahankan posisi strategisnya atas jalur perairan yang menjadi salah satu titik penting dalam perdagangan energi dunia tersebut.
“Inisiatif di Selat Hormuz tetap berada di tangan angkatan bersenjata Iran,” kata Shekarchi.
Klaim AS: Lebih dari 1 Miliar Barel Minyak Melintas
Sebelumnya, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyampaikan klaim berbeda melalui akun X.
Cooper mengatakan pasukan AS telah membantu memfasilitasi pengiriman lebih dari 1 miliar barel minyak melalui Selat Hormuz dalam dua bulan terakhir. Menurutnya, operasi tersebut juga mencakup perlindungan terhadap lebih dari 2.000 kapal komersial.
Cooper juga menyatakan jalur pelayaran utama di Selat Hormuz telah dibersihkan dari ranjau sehingga ribuan kapal dapat kembali melintas di kawasan tersebut.
Klaim tersebut kemudian dibantah oleh pihak Iran.
Ketegangan Iran-AS Berdampak pada Selat Hormuz
Perselisihan terbaru ini berlangsung di tengah ketegangan yang masih membayangi Selat Hormuz.
Iran sebelumnya membatasi lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut sebagai respons terhadap agresi Amerika Serikat dan Israel yang menurut Teheran dimulai pada 28 Februari.
Pada 17 Juni, Iran dan AS disebut menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang dimediasi Pakistan.
Dalam Pasal 5 MoU tersebut, menurut pemerintah Iran, tanggung jawab pembukaan kembali serta pengelolaan Selat Hormuz berada di tangan Teheran.
Namun, Iran menuduh Washington berupaya mengganggu kewenangan tersebut dengan membentuk koridor pelayaran di dekat perairan Oman.
Teheran juga menuduh AS kembali melancarkan serangan udara dan menerapkan blokade laut yang dinilai bertentangan dengan kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Lalu Lintas Selat Hormuz Menurun
Situasi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut pihak Iran, volume lalu lintas kapal di jalur strategis itu kini berada pada level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap pasar energi dan mendorong harga minyak mencapai level tertinggi.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia karena menjadi rute utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Iran menyatakan pembukaan kembali jalur strategis tersebut bergantung pada kepatuhan Amerika Serikat terhadap kewajibannya berdasarkan MoU yang telah disepakati.
Dengan demikian, masa depan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih sangat bergantung pada perkembangan hubungan Iran dan AS serta pelaksanaan kesepakatan yang telah dibuat kedua negara.

Komentar