PROGRES.ID – Wakil Perdana Menteri Yaman bidang Urusan Pertahanan dan Keamanan, Mayor Jenderal Jalal al-Ruwaishan, menuding pemerintah Arab Saudi menjalankan peran yang menurutnya berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik Yaman.

Pernyataan tersebut disampaikan al-Ruwaishan dalam wawancara khusus dengan televisi Al-Masirah pada Senin. Ia menilai keterlibatan Riyadh dalam konflik dan blokade terhadap Yaman selama lebih dari satu dekade tidak terlepas dari kepentingan geopolitik negara-negara Barat dan Israel.

Menurut al-Ruwaishan, Yaman memandang perlawanan yang dilakukan selama ini sebagai upaya mempertahankan diri dari serangkaian tindakan militer dan tekanan terhadap negaranya.

Al-Ruwaishan Soroti Peran Saudi dalam Konflik Yaman

Dalam wawancara tersebut, al-Ruwaishan menyebut keterlibatan Saudi dalam konflik Yaman bersifat instrumental dan dinilainya menguntungkan agenda Barat serta Israel.

Ia juga menyoroti meningkatnya kehadiran Israel di kawasan Laut Merah. Menurutnya, perkembangan tersebut berpotensi menjadi persoalan bagi keamanan kawasan dan kepentingan negara-negara Arab.

Pernyataan al-Ruwaishan merupakan pandangan pemerintah Yaman yang berseberangan dengan narasi pemerintah Saudi mengenai konflik dan keamanan kawasan.

Yaman Bantah Tuduhan Mengancam Pelayaran di Laut Merah

Al-Ruwaishan juga menanggapi tuduhan bahwa Sana’a menjadi ancaman bagi jalur pelayaran internasional di kawasan Laut Merah.

Ia menolak klaim tersebut dan menyatakan bahwa kondisi pelayaran di Selat Bab al-Mandab menurutnya tetap berlangsung secara normal dan aman.

“Realitas di lapangan menunjukkan navigasi maritim melalui Selat Bab al-Mandab sepenuhnya aman dan normal,” kata al-Ruwaishan dalam wawancara tersebut.

Ia menambahkan bahwa negara-negara yang mempercayai narasi Riyadh mengenai ancaman terhadap pelayaran dan kemudian mengambil tindakan militer terhadap Yaman akan dianggap Sana’a sebagai bagian dari konflik.

Klaim mengenai keamanan pelayaran di Laut Merah sendiri merupakan isu yang kompleks dan menjadi bagian dari perselisihan antara berbagai pihak yang terlibat dalam konflik kawasan.

Tuduhan Serangan terhadap Makkah Disebut sebagai Skenario yang Dirancang

Dalam kesempatan yang sama, al-Ruwaishan menolak tuduhan Saudi mengenai serangan terhadap Makkah.

Ia menyebut tuduhan tersebut sebagai skenario yang menurutnya telah dipersiapkan sebelumnya untuk melemahkan dukungan dari dunia Islam terhadap Yaman.

Al-Ruwaishan menghubungkan persoalan tersebut dengan sikap Sana’a terhadap konflik Palestina dan dukungan terhadap masyarakat Gaza.

Menurutnya, dukungan Yaman terhadap Palestina setelah pecahnya perang Gaza menjadi salah satu faktor yang membuat posisi Sana’a mendapat perhatian lebih luas di kawasan.

Riyadh Disebut Mengubah Strategi di Yaman

Al-Ruwaishan juga membahas perubahan konfigurasi kelompok-kelompok yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Yaman.

Ia mengatakan Riyadh berupaya mengatur kembali kekuatan dan kelompok bersenjata yang menjadi sekutunya setelah peran Uni Emirat Arab di lapangan berkurang.

Menurut al-Ruwaishan, Saudi sebelumnya menganggap Yaman sebagai sasaran yang dapat dikuasai dengan relatif mudah. Namun, ia menilai perkembangan di lapangan menunjukkan situasi yang berbeda.

Ia juga memperingatkan Riyadh agar mempertimbangkan konsekuensi ekonomi dari eskalasi baru, terutama terhadap agenda pembangunan dan investasi yang terangkum dalam Saudi Vision 2030.

Saudi Dituding Membentuk Kelompok Berbasis Sekte

Pejabat Yaman tersebut selanjutnya menuduh Saudi mendukung pembentukan unit-unit militer yang berorientasi pada ideologi takfiri.

Menurut al-Ruwaishan, langkah tersebut ditujukan untuk memicu konflik sektarian di tengah masyarakat Yaman.

Ia menilai strategi tersebut tidak akan berhasil karena, menurut pandangannya, masyarakat Yaman memiliki sejarah panjang dalam menolak dominasi asing terhadap urusan dalam negeri mereka.

Tuduhan tersebut merupakan bagian dari narasi politik pemerintah Yaman terhadap keterlibatan Saudi dalam konflik dan tidak disertai bukti independen dalam pernyataan yang dikutip.

Perbedaan Pandangan tentang Revolusi Yaman

Al-Ruwaishan juga mengaitkan konflik saat ini dengan sejarah politik Yaman.

Ia menyinggung Revolusi 26 September dan menuduh Arab Saudi pada masa lalu melakukan intervensi terhadap urusan internal Yaman hingga tingkat pejabat lokal.

Sebaliknya, ia menggambarkan Revolusi 21 September sebagai momentum yang menurut pemerintah Yaman memperkuat gagasan mengenai kemandirian politik dan pengambilan keputusan nasional.

Dalam pandangannya, perubahan tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa Riyadh tetap memiliki sikap bermusuhan terhadap pemerintahan di Sana’a.

Riyadh Diminta Mengakui Perubahan Politik di Yaman

Al-Ruwaishan kemudian menyerukan agar pemerintah Saudi menerima kondisi politik Yaman pasca-Revolusi 21 September.

Ia mengatakan masyarakat Yaman tidak lagi menerima bentuk pengawasan atau campur tangan dari negara asing.

Pejabat tersebut juga menuduh Arab Saudi tidak menjalankan peta jalan yang sebelumnya disepakati melalui mediasi Oman.

Menurut al-Ruwaishan, keberadaan pasukan dan kelompok yang masih mendapat dukungan Saudi di sejumlah wilayah Yaman pada akhirnya akan menghadapi nasib serupa dengan kekuatan yang sebelumnya ditempatkan di wilayah pantai barat.

Yaman Kaitkan Operasi Laut Merah dengan Perang Gaza

Pemerintah Yaman selama ini menyatakan bahwa operasi mereka di kawasan Laut Merah berkaitan dengan perang di Gaza.

Sana’a berulang kali menyatakan bahwa target operasi maritimnya adalah kapal-kapal yang dianggap memiliki hubungan dengan Israel atau pihak yang mendukung Israel.

Pemerintah Yaman juga menyatakan bahwa kapal-kapal lain tidak menjadi sasaran dan bahwa keselamatan pelayaran internasional tetap menjadi perhatian.

Namun, klaim tersebut merupakan posisi dari pihak Yaman dalam konflik. Situasi keamanan di Laut Merah sendiri melibatkan berbagai aktor dan telah menjadi persoalan internasional karena gangguan terhadap pelayaran komersial di kawasan tersebut.

Konflik Yaman Masih Dipengaruhi Persaingan Regional

Pernyataan terbaru al-Ruwaishan memperlihatkan bagaimana konflik Yaman masih berkaitan erat dengan persaingan geopolitik di Timur Tengah.

Di satu sisi, pemerintah Yaman di Sana’a menempatkan konfliknya dengan Saudi dalam kerangka perjuangan melawan intervensi asing. Di sisi lain, Saudi dan negara-negara lain yang terlibat memiliki kepentingan keamanan tersendiri terkait Yaman, Laut Merah dan jalur pelayaran internasional.

Sementara itu, perang di Gaza turut memperumit dinamika kawasan karena isu Palestina menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sikap berbagai kelompok dan pemerintah di Timur Tengah.

Dengan kondisi tersebut, Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab tetap menjadi kawasan strategis yang memiliki dampak langsung terhadap keamanan regional sekaligus perdagangan internasional.