PROGRES.ID – Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Washington menjadi perhatian besar negara-negara sekutu Amerika Serikat di Asia. Jepang dan Korea Selatan berharap pertemuan pemimpin AS dan China tersebut dapat meredakan ketegangan antara dua negara dengan perekonomian terbesar dunia.
Namun, stabilitas hubungan Washington-Beijing juga membawa kekhawatiran tersendiri. Negara-negara sekutu AS tidak ingin kesepakatan perdagangan atau kepentingan ekonomi antara Trump dan Xi justru berujung pada perubahan kebijakan Washington terkait keamanan kawasan, terutama mengenai Taiwan.
Menjelang pertemuan Trump dan Xi pada Kamis, 24 September 2026, AS bersama Jepang dan Korea Selatan kembali menegaskan komitmen pertahanan mereka. Ketiga negara juga menyatakan penolakan terhadap upaya sepihak untuk mengubah status quo di Selat Taiwan.
Pertemuan Trump-Xi sendiri berlangsung ketika hubungan AS-China masih dibayangi persoalan perdagangan, teknologi, Taiwan, hingga perang Iran. Xi tiba di Washington pada Rabu untuk kunjungan tiga hari, yang menjadi kunjungan pertamanya ke AS dalam lebih dari satu dekade.
Jepang dan Korea Selatan Khawatir Kepentingan Keamanan Dikompromikan
Bagi negara-negara sekutu AS di Asia, membaiknya hubungan Washington dan Beijing memiliki dua sisi.
Di satu sisi, mereka berkepentingan terhadap hubungan AS-China yang stabil karena konflik terbuka antara kedua kekuatan tersebut dapat meningkatkan risiko ketegangan di kawasan.
Di sisi lain, mereka tidak ingin kesepakatan antara Trump dan Xi menghasilkan konsesi yang berdampak terhadap kepentingan keamanan negara-negara Asia.
Analis Eurasia Group Jeremy Chan mengatakan negara-negara sekutu dan mitra AS di kawasan tidak menginginkan terobosan hubungan AS-China yang merugikan kepentingan nasional mereka. Namun, mereka juga memiliki kepentingan untuk mencegah memburuknya hubungan Washington-Beijing yang dapat meningkatkan risiko konflik.
Kekhawatiran tersebut menjadi semakin penting karena Washington kembali menegaskan komitmen pertahanannya kepada Jepang dan Korea Selatan menjelang pertemuan Trump-Xi.
Taiwan Menjadi Salah Satu Isu Sensitif
Taiwan berpotensi menjadi salah satu persoalan paling sensitif dalam pertemuan Trump dan Xi, meskipun belum dapat dipastikan seberapa jauh isu tersebut akan dibahas.
China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan selama ini menentang penjualan senjata AS kepada Taipei. Sementara itu, Washington tetap memiliki hubungan keamanan yang erat dengan Taiwan.
Kekhawatiran muncul setelah pemerintahan Trump sebelumnya menunda paket penjualan senjata untuk Taiwan senilai sekitar US$14 miliar. Penjualan senjata tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari dinamika negosiasi Washington dengan Beijing.
Menjelang pertemuan Trump-Xi, Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan tetap berkomunikasi erat dengan Washington untuk memastikan proses penjualan senjata berjalan sesuai rencana.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian Jepang dan Filipina yang memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Jepang dan Filipina Perhatikan Sikap Trump terhadap Taiwan
Jepang dan Filipina memiliki hubungan yang cukup tegang dengan China dalam beberapa persoalan keamanan regional.
Filipina terlibat perselisihan dengan Beijing terkait aktivitas di wilayah yang disengketakan di Laut China Selatan. Sementara itu, hubungan Jepang-China juga menghadapi ketegangan, terutama terkait isu keamanan di sekitar Taiwan.
Menurut Jeremy Chan, terdapat kekhawatiran bahwa Washington dapat melonggarkan dukungannya terhadap Taiwan jika Beijing menawarkan konsesi ekonomi atau bantuan dalam menangani perang Iran.
Namun, hal tersebut masih merupakan kekhawatiran dan analisis dari para pengamat, bukan keputusan kebijakan yang telah diumumkan pemerintahan Trump.
Perang Iran Ikut Membayangi Hubungan AS dengan Asia
Selain Taiwan, konflik Iran juga menjadi bagian dari konteks strategis pertemuan Trump dan Xi.
Analis yang dikutip dalam laporan tersebut menilai perang yang berlangsung lama dapat memengaruhi kemampuan AS mempertahankan kesiapan militernya di kawasan Asia-Pasifik.
Salah satu analis, Derek Grossman, sebelumnya mengatakan bahwa kebutuhan perang di Iran telah membuat Washington mengalihkan sebagian senjata dan amunisi dari kawasan Asia-Pasifik untuk mendukung operasi di Timur Tengah.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan AS merespons dengan cepat apabila terjadi krisis keamanan baru di kawasan Asia.
Bagi sekutu Washington, isu tersebut bukan hanya mengenai jumlah persenjataan, tetapi juga menyangkut persepsi terhadap komitmen jangka panjang AS di Indo-Pasifik.
Korea Selatan Soroti Kesiapan Militer
Korea Selatan juga memiliki kekhawatiran tersendiri mengenai kesiapan pertahanan bersama dengan AS.
Hubungan Seoul dan Washington sempat menjadi perhatian setelah Trump membatalkan atau mengurangi latihan militer gabungan AS-Korea Selatan. Keputusan tersebut, menurut sejumlah pengamat yang dikutip CNBC, dapat memengaruhi kesiapan pasukan gabungan sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai kredibilitas komitmen keamanan AS.
Korea Selatan sendiri menghadapi ancaman dari Korea Utara sehingga latihan militer bersama dengan AS menjadi bagian penting dari strategi pertahanannya.
Karena itu, stabilitas hubungan AS-China tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan Seoul untuk memastikan kerja sama pertahanan dengan Washington tetap berjalan.
Harapan dari Pertemuan Trump dan Xi di Bidang Perdagangan
Di bidang ekonomi, ekspektasi terhadap pertemuan Trump-Xi cenderung lebih terbatas.
Ekonom Asia-Pasifik Goldman Sachs Andrew Tilton sebelumnya memperkirakan kedua negara dapat menghasilkan sejumlah kesepakatan kecil di sektor perdagangan. Menurutnya, Washington dan Beijing sama-sama memiliki alasan untuk menjaga hubungan tetap stabil dalam beberapa bulan ke depan.
Kondisi tersebut semakin terlihat setelah AS dan China sepakat memperpanjang gencatan dagang selama dua bulan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada 23 September bahwa kesepakatan yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 10 November diperpanjang hingga 10 Januari 2027. Perpanjangan itu dimaksudkan untuk memberikan waktu tambahan bagi kedua negara membahas kesepakatan ekonomi yang lebih luas.
Gencatan Dagang AS-China Diperpanjang hingga Januari 2027
Gencatan dagang menjadi salah satu isu utama dalam hubungan AS-China.
Sebelumnya, kedua negara terlibat perang tarif yang membuat bea masuk atas produk masing-masing melonjak tajam. Ketegangan perdagangan tersebut kemudian mereda setelah Washington dan Beijing mencapai kesepakatan untuk menurunkan sebagian tarif dan menunda sejumlah tindakan balasan.
Perpanjangan hingga Januari 2027 kini memberikan ruang bagi Trump dan Xi untuk membahas persoalan yang lebih luas.
Namun, perpanjangan tersebut belum berarti perang dagang AS-China telah berakhir. Kedua negara masih memiliki perbedaan mengenai tarif, teknologi, mineral penting, kecerdasan buatan, dan akses pasar.
Asia Tenggara Menunggu Dampak Kebijakan Tarif
Negara-negara Asia Tenggara juga memperhatikan hasil pertemuan Trump dan Xi, terutama dampaknya terhadap perdagangan dan investasi.
Jika tarif AS terhadap produk China turun secara signifikan, perusahaan China mungkin memiliki insentif lebih kecil untuk memindahkan fasilitas produksi ke negara-negara Asia Tenggara.
Sebaliknya, ketika tarif terhadap produk China lebih tinggi dibandingkan negara-negara Asia Tenggara, kawasan tersebut dapat menjadi lokasi alternatif bagi perusahaan yang ingin menata ulang rantai pasok global.
Kondisi tersebut menjadi salah satu keuntungan ekonomi yang dinikmati sejumlah negara Asia Tenggara di tengah persaingan AS-China.
Namun, perubahan kebijakan tarif dapat mengubah pola tersebut. Karena itu, negara-negara di kawasan akan mencermati apakah pertemuan Trump-Xi menghasilkan perubahan besar pada struktur tarif kedua negara.
Apa Dampak Pertemuan Trump-Xi bagi Asia?
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping tidak hanya menentukan arah hubungan AS-China, tetapi juga dapat memengaruhi keamanan dan perekonomian kawasan Asia.
Bagi Jepang dan Korea Selatan, persoalan utama adalah memastikan stabilitas hubungan Washington-Beijing tidak mengorbankan komitmen pertahanan AS.
Sementara bagi Taiwan dan negara-negara Asia Tenggara, perhatian tertuju pada bagaimana kebijakan perdagangan dan keamanan AS-China akan memengaruhi posisi mereka.
Dengan perpanjangan gencatan dagang hingga Januari 2027, Washington dan Beijing kini memiliki tambahan waktu untuk merundingkan sejumlah persoalan ekonomi. Namun, isu Taiwan, teknologi, keamanan regional, dan perang Iran menunjukkan bahwa hubungan kedua negara masih memiliki banyak titik perbedaan.
Bagi sekutu AS di Asia, hasil pertemuan Trump-Xi akan menjadi salah satu indikator penting mengenai bagaimana Washington menyeimbangkan upaya memperbaiki hubungan dengan Beijing sekaligus mempertahankan komitmen keamanan di kawasan Indo-Pasifik.

Komentar