PROGRES.ID, TEHERAN — Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak ikut dalam upaya Amerika Serikat membatasi penerbangan Iran.
Menukil TasnimNews, Rezaei mengatakan, negara-negara tetangga yang ikut menghambat pesawat Iran menggunakan bandara mereka berpotensi menghadapi konsekuensi terhadap aktivitas penerbangan di wilayahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Rezaei melalui televisi pemerintah Iran pada Rabu, 23 September 2026, ketika tekanan Amerika Serikat terhadap sektor penerbangan Iran semakin meningkat.
“Kami meminta seluruh negara di kawasan untuk tidak bergabung dalam petualangan Amerika,” kata Rezaei, seperti dikutip dari laporan media Iran.
Ia juga memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak mengambil langkah yang menurutnya dapat memperluas konflik di kawasan.
Iran Soroti Pembatasan Penerbangan
Peringatan Rezaei muncul setelah Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap sektor penerbangan Iran.
Sejumlah maskapai Iran menghadapi pembatasan akses internasional, sementara perusahaan yang memberikan layanan kepada penerbangan Iran juga menghadapi ancaman sanksi sekunder dari Washington. Tekanan tersebut disebut berdampak pada layanan penerbangan Iran di sejumlah negara.
Dalam kondisi tersebut, Rezaei meminta negara-negara kawasan tidak ikut menerapkan pembatasan terhadap pesawat Iran.
Menurutnya, apabila negara-negara tetangga menutup akses bagi pesawat Iran, Teheran dapat mengambil langkah balasan terhadap operasional bandara negara tersebut.
“Jika mereka tidak mengizinkan pesawat Iran bepergian, bandara mereka sendiri juga tidak akan dapat menjalankan penerbangan,” ujar Rezaei.
Pernyataan itu merupakan ancaman yang disampaikan pejabat Iran dan tidak berarti bahwa seluruh bandara di kawasan secara otomatis akan terdampak.
Rezaei Tanggapi Pernyataan Trump di PBB
Rezaei juga menanggapi pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Trump sebelumnya menggunakan pidato di PBB untuk membela kebijakan Amerika Serikat terkait perang dengan Iran dan menyampaikan ancaman keras terhadap Teheran.
Menanggapi hal tersebut, Rezaei menyatakan Iran akan merespons pernyataan Trump.
Ia menggambarkan pidato Trump dengan istilah yang sangat keras dan menyebutnya sebagai upaya seorang pihak yang kalah untuk membela diri. Pernyataan tersebut merupakan penilaian Rezaei terhadap Presiden AS.
Rezaei juga menegaskan bahwa menurut versi pemerintah Iran, Teheran tidak memiliki kebijakan menyerang negara lain sejak Revolusi Islam 1979 dan menganggap tindakan militernya sebagai bentuk pertahanan.
Rezaei Klaim Iran Merusak Aset Militer AS
Dalam wawancara yang sama, Rezaei juga menyampaikan sejumlah klaim mengenai dampak konflik terhadap aset militer Amerika Serikat.
Ia mengklaim Iran telah memberikan kerusakan serius terhadap sejumlah aset militer AS, termasuk menyerang pesawat militer canggih dan menargetkan kapal induk USS George Washington.
Rezaei bahkan mengatakan Iran telah menyita sebuah kapal selam Amerika Serikat dan sedang melakukan rekayasa balik atau reverse engineering terhadapnya.
Klaim mengenai aset militer tersebut berasal dari pernyataan pejabat Iran dan belum dapat diverifikasi secara independen dari sumber yang tersedia.
Iran Sebut Ada Tujuh Syarat untuk Diplomasi
Di tengah meningkatnya ketegangan, Rezaei mengatakan posisi Iran dalam menghadapi Amerika Serikat tidak berubah, tetapi Teheran kini menerapkan pendekatan diplomasi baru.
Menurutnya, Iran tidak ingin kembali ke pola diplomasi sebelum perang. Teheran, kata dia, menginginkan langkah konkret dari Washington untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat Iran.
Rezaei sebelumnya mengatakan Iran telah menyampaikan tujuh syarat kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali jalur perundingan. Qatar dan Pakistan disebut terlibat dalam penyampaian pesan antara kedua negara.
Beberapa tuntutan yang telah diungkap secara terbuka antara lain penghentian perang di seluruh front, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade laut Amerika Serikat.
Namun, seluruh tujuh syarat tersebut belum dipublikasikan secara lengkap oleh Rezaei.
Selat Hormuz Jadi Bagian dari Tekanan Iran
Rezaei juga mengaitkan diplomasi dengan masa depan Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia.
Ia mengatakan Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz maupun melakukan perundingan dengan Amerika Serikat sebelum syarat-syarat Teheran dipenuhi.
Pernyataan tersebut muncul setelah pejabat Iran sebelumnya menyatakan kesediaan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sekitar satu pekan jika Amerika Serikat mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Dengan demikian, Selat Hormuz tetap menjadi salah satu instrumen penting dalam posisi tawar Iran selama berlangsungnya konflik dan upaya diplomasi.
Iran Bantah Ingin Memperluas Perang
Rezaei juga membantah tuduhan bahwa Iran ingin memperluas perang ke negara lain.
Ia mengatakan masyarakat Yaman memiliki keputusan sendiri dan menegaskan bahwa Teheran tidak menginginkan konflik antara Yaman dan Arab Saudi.
Dalam pernyataan sebelumnya, Rezaei juga menyebut Iran tidak berniat menjadikan konflik Yaman sebagai sarana untuk kepentingan politiknya. Ia bahkan menolak spekulasi mengenai kemungkinan Iran menutup Selat Bab el-Mandeb, dengan mengatakan bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan pihak-pihak di Yaman.
Ketegangan AS-Iran Masih Berlangsung
Peringatan terbaru Rezaei memperlihatkan bahwa ketegangan antara Washington dan Teheran berlangsung di dua jalur sekaligus, yakni tekanan ekonomi dan penerbangan di satu sisi serta upaya diplomasi di sisi lainnya.
Di tengah tekanan terhadap maskapai Iran, jalur komunikasi melalui negara mediator seperti Qatar dan Pakistan masih menjadi bagian dari upaya untuk membuka kembali perundingan.
Namun, pernyataan dari kedua pihak masih menunjukkan adanya perbedaan besar mengenai syarat untuk mengakhiri konflik.
Bagi negara-negara di kawasan, perkembangan tersebut juga membawa konsekuensi tersendiri karena sektor penerbangan, perdagangan energi, dan keamanan regional berpotensi ikut terdampak apabila ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin meningkat.

Komentar