PROGRES.ID, WASHINGTON — Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Donald Trump, mulai dari kebijakan tarif terhadap Kanada hingga renovasi Gedung Putih yang dinilainya tidak sejalan dengan persoalan ekonomi yang dihadapi warga Amerika.
Dalam kampanye untuk Partai Demokrat di Cleveland, Ohio, pada Sabtu (24/10/2026), Obama menyindir Trump yang dianggap terlalu sibuk mengurus penampilan kediaman presiden. Ia juga mengecam perang dagang dengan Kanada, negara tetangga yang memiliki hubungan ekonomi erat dengan Amerika Serikat.
Pernyataan Obama menjadi bagian dari rangkaian kampanye menjelang pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026. Menurut laporan NBC News, Associated Press (AP), dan The Washington Post, mantan presiden tersebut berusaha mengarahkan perhatian pemilih pada kenaikan biaya hidup, kebijakan perdagangan, serta prioritas pemerintahan Trump.
Obama Sindir Renovasi Gedung Putih
Dalam pidatonya di Cleveland, Obama menyindir proyek pembangunan ruang pesta atau ballroom, perubahan taman Rose Garden, pembangunan helipad, serta penggunaan ornamen emas di Gedung Putih.
“Dia seharusnya tampil di HGTV,” kata Obama, merujuk pada jaringan televisi yang dikenal menayangkan program renovasi rumah.
Obama kemudian melontarkan sindiran lain yang menjadi sorotan media AS. Ia menggambarkan Gedung Putih setelah renovasi Trump seperti bangunan yang dirancang Saddam Hussein untuk sebuah restoran Cheesecake Factory.
Pernyataan itu disambut tawa dan tepuk tangan para pendukung Demokrat yang menghadiri kampanye tersebut.
Menurut NBC News, Obama menggunakan sindiran itu untuk mempertanyakan apakah Trump benar-benar memprioritaskan persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk harga kebutuhan sehari-hari dan biaya hidup.
Obama juga menyoroti janji Trump saat kampanye presiden 2024 untuk menekan biaya hidup. Ia berpendapat sejumlah keputusan pemerintahan saat ini justru menambah beban ekonomi masyarakat.
Meski demikian, renovasi Gedung Putih juga memiliki tujuan fungsional. Pemerintahan Trump menyatakan fasilitas seperti ruang acara permanen diperlukan untuk mendukung kegiatan resmi berskala besar, sedangkan perubahan sejumlah area luar gedung ditujukan untuk meningkatkan fungsi dan penggunaannya.
Perang Tarif dengan Kanada Jadi Sasaran Kritik
Selain renovasi Gedung Putih, Obama menyoroti kebijakan tarif Trump terhadap Kanada yang telah memicu ketegangan perdagangan antara kedua negara.
Dalam kampanye di Ohio, Obama menyindir keputusan Trump yang menjadikan Kanada sebagai sasaran perang dagang. Ia menyebut Kanada sebagai negara tetangga yang dikenal melalui produk seperti sirup maple dan tokoh komedi Martin Short.
“Perang dagang besar yang sekarang dimulainya adalah dengan kerajaan jahat yang sudah terkenal itu—Kanada,” ujar Obama dalam pidatonya, sebagaimana dikutip The Washington Post.
Sindiran tersebut merujuk pada hubungan perdagangan yang semakin memburuk setelah perundingan kedua negara menemui jalan buntu pada Agustus 2026.
Menurut Reuters, Trump pada 23 Oktober mengatakan Kanada sedang berupaya keras mencapai kesepakatan dagang dengan Washington. Namun, kedua negara belum mengumumkan kesepakatan menyeluruh untuk mengakhiri perselisihan tarif.
Pada Agustus, pemerintahan Trump memberlakukan tarif hingga 50 persen terhadap sekitar US$20 miliar barang Kanada. Ottawa kemudian membalas dengan tarif terhadap sejumlah produk AS.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian khusus bagi negara bagian seperti Michigan, yang industri otomotifnya sangat terhubung dengan rantai pasok Kanada.
CBS News Detroit melaporkan bahwa Kanada merupakan pasar ekspor terbesar Michigan pada 2025. Karena itu, perubahan tarif dapat memengaruhi biaya produksi dan perdagangan perusahaan yang beroperasi di kedua sisi perbatasan.
Trump Membela Tarif sebagai Perlindungan Industri AS
Pemerintahan Trump mempertahankan kebijakan tarif dengan alasan melindungi pekerja Amerika, mendorong investasi manufaktur, dan memperbaiki posisi tawar Washington dalam perundingan dagang.
Dalam pernyataan yang dikutip The Washington Post, juru bicara Gedung Putih Matthew Middleton mengatakan Amerika Serikat telah menawarkan kesepakatan yang dinilai menguntungkan kepada Kanada, tetapi tawaran tersebut ditolak Ottawa.
Trump juga mengatakan pada Minggu (25/10) bahwa kesepakatan dagang dengan Kanada dapat tercapai dalam waktu dekat. Namun, ia tidak memberikan rincian mengenai isi maupun waktu penyelesaian kesepakatan itu, menurut Reuters.
Perdebatan mengenai tarif tidak hanya menyangkut hubungan diplomatik. Kebijakan tersebut juga menjadi isu kampanye karena perusahaan dan konsumen menghadapi ketidakpastian mengenai harga bahan baku, barang impor, serta biaya produksi.
Obama berpendapat kebijakan tarif Trump ikut memperburuk persoalan biaya hidup. Sebaliknya, pemerintah AS menilai tarif merupakan instrumen untuk memperkuat industri domestik dan menekan mitra dagang agar menerima persyaratan Washington.
Obama Kaitkan Tarif dan Perang dengan Kenaikan Biaya Hidup
Dalam pidato yang sama, Obama menuduh pemerintahan Trump mengambil sejumlah keputusan yang berkontribusi terhadap kenaikan biaya hidup, termasuk kebijakan tarif dan perang dengan Iran.
Ia menyebut konflik tersebut sebagai perang yang tidak diperlukan dan mempertanyakan alasan pemerintah memulai operasi militer tersebut.
Pernyataan Obama merupakan kritik politik terhadap keputusan pemerintahan Trump. Pemerintah memiliki pembenaran tersendiri mengenai kebijakan militernya, sehingga penilaian terhadap dampak konflik perlu dilihat berdasarkan perkembangan keamanan dan ekonomi yang lebih luas.
Reuters melaporkan bahwa Obama menganggap pemilu paruh waktu sebagai kesempatan bagi pemilih untuk meningkatkan pengawasan terhadap pemerintahan. Ia meminta warga tidak hanya menilai janji kampanye, tetapi juga mempertimbangkan hasil kebijakan yang telah dijalankan.
Turun Gunung untuk Menggalang Suara Demokrat
Kunjungan Obama ke Ohio dan Michigan merupakan bagian dari upayanya membantu kandidat Demokrat menjelang pemilu paruh waktu.
Di Ohio, ia berkampanye untuk kandidat Senat Sherrod Brown dan kandidat gubernur Amy Acton. Di Michigan, Obama tampil untuk mendukung Abdul El-Sayed dalam pemilihan Senat dan Jocelyn Benson dalam pemilihan gubernur.
Menurut AP, Obama juga mengkritik strategi kampanye Partai Republik yang dinilainya melampaui batas kepatutan, termasuk iklan politik yang melibatkan ibu dari Amy Acton.
Kehadiran Obama memperlihatkan pentingnya tokoh nasional dalam persaingan di negara-negara bagian yang menjadi medan perebutan suara. Pemilu 3 November akan menentukan komposisi Kongres dan berpotensi memengaruhi kemampuan Trump menjalankan agenda pemerintahannya.
Perseteruan Obama dan Trump Kembali Mengemuka
Hubungan politik Obama dan Trump telah lama diwarnai perbedaan tajam mengenai perdagangan, imigrasi, kebijakan luar negeri, dan peran pemerintah federal.
Trump berulang kali mengkritik kebijakan pemerintahan Obama, termasuk kesepakatan nuklir Iran yang dicapai pada 2015 dan kemudian ditinggalkan AS pada 2018. Obama, sementara itu, semakin sering muncul dalam kampanye untuk menentang agenda pemerintahan Trump.
Kritik terbaru Obama terhadap tarif Kanada dan renovasi Gedung Putih memperlihatkan bahwa persaingan keduanya tetap menjadi bagian dari perdebatan politik nasional, meskipun Obama tidak lagi menjabat sebagai presiden.
Bagi Demokrat, persoalan biaya hidup dan perdagangan menjadi bahan untuk mempertanyakan prioritas pemerintahan Trump. Bagi Gedung Putih, tarif dan renovasi fasilitas kepresidenan merupakan bagian dari kebijakan yang mereka nilai memiliki manfaat ekonomi atau operasional.
Menjelang pemilu paruh waktu, pertarungan politik itu akan berlanjut melalui kampanye, perdebatan kebijakan, dan keputusan pemilih di berbagai negara bagian.

Komentar